Tri Ayu larasati1, Lia Fernanda2,Nabila Laila Nur Aini3,Natasha Aurel A4,Shofi Risqia Rachma5 Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya [email protected]
Fakultas Ekonomi Dan Bisnis, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
[email protected]
Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya [email protected]
Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya [email protected]
Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya [email protected]
ABSTRAK
Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan Toko Dhe Juu, sebuah toko kelontong di lingkungan pedesaan, melalui pendekatan transformasi terpadu yang meliputi lima aspek utama: branding, pembukuan sederhana, digitalisasi usaha, penataan fisik toko, dan inovasi produk lokal berupa es lilin. Kegiatan dilaksanakan selama 12 hari dengan metode partisipatif, melibatkan mitra usaha secara aktif dalam setiap tahap kegiatan, mulai dari diskusi, pelatihan, pendampingan langsung, hingga evaluasi hasil.
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa branding sederhana dengan logo dan spanduk toko berhasil meningkatkan identitas dan daya tarik usaha. Penerapan pembukuan harian membantu mitra memahami arus kas dan laba usaha. Digitalisasi melalui Google Maps dan WhatsApp Business memperluas jangkauan pelanggan dan mempermudah komunikasi. Penataan ulang barang menciptakan lingkungan belanja yang lebih nyaman dan efisien, sedangkan inovasi es lilin menjadi ciri khas produk baru yang menarik minat konsumen dan meningkatkan pendapatan harian toko.
Keseluruhan kegiatan ini menunjukkan bahwa transformasi toko kelontong dapat dilakukan dengan langkah-langkah praktis dan tepat guna, serta mampu mendorong kemandirian dan daya saing usaha kecil secara berkelanjutan.
Kata kunci: pemberdayaan, toko kelontong, branding, digitalisasi, pembukuan, es lilin
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memegang peran strategis dalam struktur ekonomi Indonesia, terutama dalam konteks penyediaan lapangan kerja dan pemerataan ekonomi masyarakat. Salah satu bentuk UMKM yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat adalah toko kelontong. Toko ini melayani kebutuhan sehari-hari warga, mulai dari jajanan, minuman, gas elpiji, alat tulis, hingga kebutuhan dapur. Namun, toko kelontong sering kali dikelola secara tradisional dan belum menerapkan prinsip manajemen usaha modern. Tidak adanya pencatatan keuangan, minimnya identitas usaha (branding), dan rendahnya adopsi teknologi digital menjadi tantangan umum yang dihadapi.
Toko Dhe Juu merupakan salah satu toko kelontong di lingkungan masyarakat desa yang menjual beragam produk kebutuhan harian. Meskipun memiliki potensi, toko ini belum memiliki sistem pembukuan, tidak ada logo atau slogan, belum muncul di pencarian digital, dan tidak memiliki produk khas. Dengan tantangan tersebut, diperlukan upaya transformasi untuk meningkatkan daya saing toko, memperluas jangkauan pasar, serta memperkuat identitas usaha.Kegiatan KKN Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya ini menjadi penting sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam meningkatkan kapasitas usaha mikro secara berkelanjutan. Intervensi dilakukan melalui pendekatan sederhana namun terukur dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada.
1.2 Rumusan Masalah
- Bagaimana menciptakan identitas usaha yang menarik dan mudah dikenali pada Toko Dhe Juu?
- Bagaimana memberikan pelatihan pembukuan sederhana agar mitra dapat mencatat transaksi harian?
- Bagaimana memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung eksistensi toko?
- Bagaimana menata ulang produk agar toko tampak lebih menarik dan efisien?
- Bagaimana merancang produk inovatif seperti es lilin agar dapat menjadi ciri khas toko?
1.3 Tujuan Kegiatan
- Meningkatkan identitas visual Toko Dhe Juu melalui branding
- Meningkatkan literasi keuangan pemilik toko dengan pembukuan
- Memperkenalkan platform digital sederhana seperti Google Maps dan WhatsApp
- Menata ulang tata letak toko agar lebih menarik dan 5.Mengembangkan produk es lilin sebagai inovasi lokal.
1.4 Tinjauan Pustaka
Menurut Lestari & Maulina (2024), pencatatan keuangan sangat penting dalam mengetahui posisi usaha secara finansial. UMKM yang memiliki pembukuan sederhana dapat membuat keputusan yang lebih tepat dalam pengelolaan modal dan stok barang. Santi dkk. (2024) menambahkan bahwa pembukuan juga menjadi syarat utama dalam mengakses bantuan pemerintah maupun lembaga keuangan.
Dalam aspek branding, identitas usaha dapat memperkuat positioning toko di tengah persaingan pasar. Branding sederhana seperti logo, slogan, dan tampilan visual toko akan meningkatkan daya tarik pelanggan dan loyalitas (Widiawati & Utami, 2023).
Di era digital, pemanfaatan platform seperti Google Maps dan WhatsApp Business dapat meningkatkan visibilitas dan menjangkau konsumen baru (Putri dkk., 2025). Sementara itu, inovasi produk lokal seperti es lilin dapat menjadi diferensiasi dan ciri khas yang unik, apalagi jika didukung oleh kemasan menarik dan alat bantu produksi seperti sealer (Nafsiah dkk., 2024).
1.5 Rencana Pemecahan Masalah
Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan melalui lima bentuk program kerja terpadu:
- Sosialisasi branding dan identitas toko melalui diskusi bersama mitra untuk memilih nama, membuat logo sederhana, dan menciptakan spanduk atau label
- Pelatihan pembukuan sederhana, berupa simulasi pencatatan keuangan selama satu minggu dengan template kas masuk-keluar, serta pemberian buku kas sebagai alat praktik harian.
- Pendampingan digitalisasi toko, meliputi pembuatan titik lokasi Google Maps, akun WhatsApp Business, dan pengambilan serta pengeditan foto produk dan toko.
- Evaluasi tata letak toko dan produk, dengan pelatihan teknik penataan barang dan pembuatan rak sederhana dari bahan lokal.
- Pendampingan inovasi produk es lilin, meliputi pelatihan produksi,
Kelima program ini dirancang untuk saling melengkapi dan menghasilkan perubahan nyata terhadap tata kelola dan daya tarik Toko Dhe Juu.
BAB II
KAJIAN LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.1 Kajian Literatur
Kajian literatur dalam kegiatan pengabdian ini mencakup beberapa aspek utama yang relevan dengan permasalahan dan solusi yang ditawarkan, yaitu: branding UMKM, pembukuan sederhana, digitalisasi usaha kecil, penataan toko, dan inovasi produk lokal.;
2.1.1 Branding dan Identitas Usaha
Branding merupakan proses membangun citra dan identitas suatu usaha agar dikenal dan diingat oleh konsumen. Menurut Keller (2013), brand yang kuat memiliki dampak langsung terhadap loyalitas pelanggan dan nilai tambah produk. Widiawati & Utami (2023) dalam jurnal Tunas Abdimas menyatakan bahwa branding sederhana seperti penggunaan nama toko, logo, dan slogan mampu meningkatkan citra profesional dan menarik lebih banyak pelanggan, bahkan pada usaha skala kecil seperti toko kelontong.
2.1.2 Pembukuan Keuangan Sederhana untuk UMKM
Pencatatan keuangan harian merupakan langkah dasar dalam pengelolaan usaha. Lestari & Maulina (2024) menjelaskan bahwa usaha kecil yang tidak melakukan pencatatan keuangan berpotensi mengalami kerugian tak terdeteksi. Santi dkk. (2024) juga menunjukkan bahwa pelatihan pembukuan dapat meningkatkan literasi finansial dan membantu pelaku UMKM dalam mengambil keputusan bisnis yang tepat. Pencatatan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat memperlihatkan arus kas, margin keuntungan, dan titik impas usaha.
2.1.3 Digitalisasi UMKM
Pemanfaatan teknologi digital terbukti meningkatkan daya saing usaha kecil. Menurut Putri dkk. (2025), penggunaan platform Google Maps, WhatsApp Business, dan media sosial mampu memperluas jangkauan pasar dan membangun hubungan lebih dekat dengan pelanggan. Digitalisasi bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang kemampuan UMKM memanfaatkan alat digital untuk mendukung aktivitas usaha sehari-hari.
2.1.4 Penataan Tata Letak Toko
Toko yang rapi dan menarik secara visual akan memberikan pengalaman belanja yang lebih baik. Penelitian dari Handayani & Suryani (2022) menunjukkan bahwa penataan produk yang baik dapat meningkatkan minat beli konsumen dan mempercepat perputaran barang. Penggunaan rak sederhana dan teknik display vertikal juga terbukti efektif untuk toko dengan ruang terbatas.
2.1.5 Inovasi Produk Lokal
Inovasi produk menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha kecil. Nafsiah dkk. (2024) menjelaskan bahwa inovasi produk seperti es mambo lilin yang dikemas menarik mampu menarik minat pelanggan anak-anak dan remaja. Produk khas yang ditawarkan oleh UMKM juga dapat menjadi identitas tersendiri yang membedakan dari toko lainnya.
2.2 Pengembangan Hipotesis
Berdasarkan literatur yang dikaji dan praktik empiris yang dilakukan dalam kegiatan pengabdian, hipotesis yang dapat dikembangkan adalah:
H1: Implementasi pendekatan terpadu berupa branding, pembukuan sederhana, digitalisasi, penataan produk, dan inovasi es lilin akan meningkatkan citra, efisiensi pengelolaan, serta daya tarik Toko Dhe Juu sebagai usaha kelontong lokal.
Hipotesis ini didukung oleh hasil penelitian sebelumnya dan pengamatan langsung di lapangan yang menunjukkan bahwa intervensi pada aspek-aspek tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap keberlangsungan usaha kecil.
Kajian ini menjadi landasan konseptual sekaligus dasar teoritis dalam merancang dan melaksanakan program pengabdian yang relevan, berdaya guna, dan sesuai kebutuhan mitra usaha.
BAB III
METODE
Rancangan Kegiatan
Kegiatan ini dirancang sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dalam program Kuliah Kerja Nyata Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya,dengan pendekatan partisipatif. Setiap tahapan kegiatan disusun berdasarkan kebutuhan mitra usaha, yaitu Toko Dhe Juu, dan difokuskan pada pemberdayaan melalui pendampingan langsung dan praktik.
3.2 Ruang Lingkup dan Objek Kegiatan
Objek kegiatan adalah Toko Dhe Juu, sebuah toko kelontong kecil yang menjual jajanan, es, tabung gas, alat tulis, aneka minuman, voucher wifi, lampu, dan bumbu dapur. Ruang lingkup kegiatan meliputi aspek manajerial toko, pemasaran, pencatatan keuangan, pemanfaatan teknologi digital, serta pengembangan produk lokal (es lilin).
3.3 Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan di Desa Mojokembang RT 05 RW 01 kecamatan pacet, kabupaten mojokembang, selama periode KKN berlangsung, yaitu selama 12 hari.
3.4 Bahan dan Alat Utama
- Bahan: buku kas, spanduk, kertas label, bahan baku es lilin (susu cair,gula pasir,kental manis,kara santan,maizena,pewarna makanan.coklat pasta, plastik)
- Alat: alat tulis, laptop, printer, smartphone, alat rakitan rak
3.5 Teknik Pengumpulan Data
- Observasi langsung terhadap kondisi toko dan pola kerja pemilik usaha
- Wawancara tidak terstruktur untuk menggali kendala, kebiasaan, dan harapan mitra
- Dokumentasi kegiatan berupa foto dan hasil desain (logo, rak, spanduk, produk)
- Simpulan hasil simulasi pembukuan dan penerapan digitalisasi
3.6 Definisi Operasional Variabel (untuk pengukuran dampak)
- Branding toko: diukur dari keberadaan nama usaha, logo, dan tampilan visual toko
- Pembukuan sederhana: diukur dari keteraturan catatan kas harian dan kemampuan mitra membaca laba/rugi
- Digitalisasi: diukur dari keberadaan akun Google Maps, WhatsApp Business, serta dokumentasi promosi digital
- Penataan toko: diukur dari perubahan tata letak dan kerapian toko berdasarkan observasi sebelum dan sesudah
- Inovasi produk: diukur dari jumlah varian es lilin yang dijual, serta peningkatan minat beli
3.7 Teknik Analisis Data
Data dianalisis secara deskriptif kualitatif. Perubahan dan dampak dari kegiatan dibandingkan antara kondisi awal dan akhir melalui narasi temuan, catatan lapangan, dan dokumentasi visual. Analisis difokuskan pada keberhasilan implementasi setiap komponen kegiatan serta respon dan partisipasi mitra selama program berlangsung
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Kegiatan
Kegiatan pengabdian yang dilakukan di Toko Dhe Juu menghasilkan sejumlah capaian yang terbagi dalam lima fokus transformasi, yaitu branding, pembukuan, digitalisasi, penataan toko, dan inovasi produk. Hasil kegiatan dipantau melalui observasi langsung, dokumentasi, dan evaluasi harian bersama mitra.
4.1.1 Sosialisasi Branding dan Identitas Toko
Melalui diskusi intensif antara tim KKN dan mitra, disepakati untuk mempertahankan nama “Toko Dhe Juu” yang dinilai unik dan sudah akrab di masyarakat setempat. Proses branding diperkuat melalui pembuatan logo sederhana dengan warna cerah yang menggambarkan semangat pelayanan dan kehangatan. Logo tersebut diaplikasikan dalam bentuk spanduk, label plastik kemasan es lilin, serta stiker promosi. Branding ini memberikan citra baru bagi toko dan meningkatkan daya tarik visual terhadap konsumen.
Hasil wawancara dengan pelanggan menunjukkan bahwa mereka lebih mudah mengenali toko dan menyebutkan nama “Dhe Juu” saat diminta menyebutkan toko terdekat yang menjual es lilin. Ini menunjukkan bahwa upaya branding telah memberikan efek penguatan identitas yang efektif.
4.1.2 Pelatihan Pembukuan Sederhana
Sebelumnya, mitra belum pernah melakukan pencatatan keuangan secara sistematis.
Melalui pelatihan yang diberikan, mitra memahami pentingnya pembukuan sebagai alat pemantauan keuangan. Template kas harian (pemasukan, pengeluaran, saldo) disediakan dan digunakan setiap hari selama satu minggu.
Contoh hasil pencatatan:
| Tanggal | Pemasukan (Rp) | Pengeluaran (Rp) | Keterangan |
| 03/07 | 150.000 | 90.000 | Penjualan es, belanja ulang |
| 04/07 | 170.000 | 100.000 | Penjualan gas dan jajanan |
| 05/07 | 200.000 | 120.000 | Penjualan alat tulis, isi ulang stok |
Dari data tersebut, mitra mulai mampu menghitung rata-rata keuntungan harian dan menilai produk mana yang paling laku. Ini menjadi awal perubahan sikap dalam mengelola toko secara lebih terstruktur.
4.1.3 Pendampingan Digitalisasi Toko
Toko Dhe Juu sebelumnya tidak memiliki eksistensi daring. Melalui pendampingan, toko didaftarkan di Google Maps agar pelanggan dapat menemukan lokasi dengan mudah. Selanjutnya, dibuat akun WhatsApp Business dengan katalog produk dan jam buka.
Foto-foto produk dan interior toko diambil, diedit, dan diunggah ke akun WA Business dan Google Maps. Mitra dilatih mengelola status WA sebagai media promosi harian. Efeknya, pelanggan baru mulai datang karena menemukan lokasi toko melalui pencarian online
4.1.4 Evaluasi Tata Letak dan Produk
Kondisi toko sebelum program menunjukkan susunan barang yang tidak beraturan, menyebabkan produk tertentu sulit terlihat pembeli. Tim KKN bersama mitra melakukan evaluasi dan mengelompokkan produk sesuai kategori: jajanan anak, gas, alat tulis, dan minuman.
Rak tambahan dari bahan kayu sederhana dibuat dan digunakan untuk display jajanan. Setiap produk diberi label harga. Tata letak yang lebih rapi meningkatkan kenyamanan pelanggan dan mempercepat transaksi. Berdasarkan observasi, waktu tunggu pelanggan berkurang karena produk lebih mudah ditemukan.
4.1.5 Inovasi Produk Es Lilin
Produk es lilin adalah potensi lokal yang belum dikembangkan maksimal. Tim KKN Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya memperkenalkan variasi rasa seperti cokelat susu, mangga, dan vanila. Mitra dilatih membuat es lilin higienis dan mengemasnya dengan alat bantu sealer pemanas yang diberikan.
Es lilin diberi label dan dijual dalam kemasan kecil berlogo toko. Produk ini menjadi favorit anak-anak dan mendapat respons positif. Penjualan es lilin meningkat 3 kali lipat dalam 2 minggu, berdasarkan catatan buku kas. Mitra juga menyatakan semangat baru karena produk ini kini menjadi ciri khas toko.
4.2 Pembahasan
Transformasi Toko Dhe Juu membuktikan bahwa intervensi berbasis pendampingan langsung dengan pendekatan multidimensi dapat menciptakan perubahan positif. Dalam aspek branding, hasil lapangan sesuai dengan teori Keller (2013) yang menyebutkan bahwa brand visual yang kuat meningkatkan daya kenal dan kepercayaan pelanggan.
Pembukuan sederhana yang diterapkan selaras dengan temuan Lestari & Maulina (2024) yang menegaskan bahwa pencatatan harian memberi pelaku UMKM kendali atas arus kas dan perencanaan belanja. Digitalisasi melalui Google Maps dan WhatsApp Business memberikan efek nyata dalam memperluas jangkauan, sesuai dengan Putri dkk. (2025) yang menekankan pentingnya adaptasi teknologi bagi UMKM.
Penataan ulang toko berdampak langsung pada efisiensi dan kenyamanan pelanggan, sebagaimana disampaikan Handayani & Suryani (2022) bahwa tampilan visual memengaruhi psikologis pembeli. Inovasi produk es lilin membuktikan bahwa kreativitas lokal dapat menjadi nilai jual utama yang meningkatkan pendapatan usaha.
Keberhasilan kegiatan ini juga ditentukan oleh keterlibatan aktif mitra. Adanya rasa memiliki dan keinginan untuk belajar menjadi kunci utama keberhasilan intervensi. Hal ini memperkuatteori partisipatif dalam pengabdian masyarakat yang menekankan kolaborasi, edukasi, dan kemandirian sebagai tujuan akhir.
Secara keseluruhan, kegiatan ini menunjukkan bahwa transformasi toko kelontong dapat dilakukan secara sederhana, murah, dan aplikatif, tanpa harus bergantung pada teknologi canggih atau modal besar. Kolaborasi antara mahasiswa dan pelaku UMKM menjadi model pemberdayaan komunitas yang layak dikembangkan lebih lanjut.
BAB V: KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pelaksanaan dan pembahasan program pengabdian kepada masyarakat melalui kegiatan KKN Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya di Toko Dhe Juu, dapat disimpulkan bahwa transformasi usaha mikro, khususnya toko kelontong, dapat dilakukan secara terarah dan terintegrasi dengan pendekatan yang sederhana namun berdampak signifikan. Transformasi dilakukan melalui lima komponen utama yaitu branding, pembukuan sederhana, digitalisasi toko, penataan ulang produk, dan inovasi produk es lilin. Kelima intervensi tersebut berhasil mengangkat Toko Dhe Juu menjadi usaha yang lebih tertata, dikenal masyarakat, dan memiliki ciri khas yang kuat.
Pertama, melalui sosialisasi branding dan identitas toko, Toko Dhe Juu kini memiliki logo, spanduk, dan kemasan produk yang konsisten dengan nama usaha. Branding ini telah menciptakan identitas visual yang lebih kuat dan mudah dikenali oleh pelanggan. Kedua, penerapan pembukuan sederhana membantu mitra dalam memahami pentingnya pencatatan transaksi harian, menganalisis arus kas, serta mengevaluasi keuntungan dan kebutuhan belanja ulang secara mandiri.
Ketiga, digitalisasi toko melalui pembuatan titik Google Maps dan akun WhatsApp Business memberikan kemudahan dalam hal promosi dan interaksi dengan pelanggan. Keberadaan toko secara daring juga membantu menarik konsumen baru yang sebelumnya tidak mengetahui keberadaannya. Keempat, penataan ulang toko menghasilkan tampilan yang lebih bersih dan sistematis, yang pada gilirannya meningkatkan kenyamanan pelanggan dan efisiensi waktu transaksi.
Kelima, inovasi produk es lilin membawa nilai tambah tersendiri bagi toko. Produk ini tidak hanya menjadi unggulan tetapi juga berhasil meningkatkan pendapatan harian toko secara nyata. Produk es lilin yang dikemas dengan lebih higienis dan menarik juga menunjukkan bahwa inovasi tidak harus mahal atau kompleks.
Keseluruhan proses menunjukkan bahwa dengan pendekatan kolaboratif dan pendampingan langsung yang melibatkan mitra secara aktif, perubahan positif dalam manajemen dan citra toko dapat tercapai. Hasil ini juga memperkuat pentingnya keterlibatan komunitas dan kehadiran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam pemberdayaan ekonomi lokal. Toko Dhe Juu kini tidak hanya sekadar toko kelontong, tetapi telah bertransformasi menjadi usaha kecil yang memiliki arah pengelolaan, identitas yang kuat, serta potensi pertumbuhan berkelanjutan.
Program ini dapat direplikasi di lokasi lain dengan pendekatan yang serupa, terutama bagi toko-toko kecil yang menghadapi tantangan modernisasi dan daya saing. Transformasi toko kelontong bukan lagi sebuah ide besar yang memerlukan investasi besar, melainkan sebuah gerakan kecil yang dimulai dari kesadaran, pendampingan, dan langkah konkret yang terukur.
DAFTAR PUSTAKA
1(1). https://tunasbangsa.ac.id/abdimas/index.php/tunasabdimas/article/download/101/99
Fadhia, N., & Ningsih, D. A. (2024). Penggunaan Pencatatan Akuntansi pada Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Liabilities: Jurnal Pendidikan Akuntansi, 7(1). https://jurnal.umsu.ac.id/index.php/LIAB/article/download/15883/11271
Handayani, R., & Suryani, T. (2022). Pengaruh Tata Letak Produk terhadap Keputusan Pembelian Konsumen pada Usaha Kecil. Jurnal Ilmu Manajemen Terapan, 5(2), 112–121.
Keller, K. L. (2013). Strategic Brand Management: Building, Measuring, and Managing Brand Equity. Pearson Education.
Lestari, D., & Maulina, M. (2024). Implementasi Pencatatan Keuangan pada Usaha Kecil dan Menengah (Studi pada Toko Kelontong di Kecamatan Panjang). Jurnal Valuasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Manajemen dan Kewirausahaan, 4(1). https://valuasi.lppmbinabangsa.id/index.php/home/article/download/222/173/531
Nafsiah, S. N., Marlindawati, M., & Heryani, H. (2024). Sosialisasi Penerapan Pembukuan Sederhana Berbasis Akuntansi pada Toko Sembako Ibu Rohayah Desa Ibul Besar 1. J-ABDI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(2), 113–124. https://bajangjournal.com/index.php/J-ABDI/article/view/7963
Putri, A. K., Rahmawati, R., & Herawati, H. (2025). Sistem Pencatatan Keuangan yang Efektif Bagi UMKM Seblak (Seblak Samyang). Jurnal Akuntansi Keuangan dan Perpajakan, 1(3). https://jurnal.globalscients.com/index.php/jakp/article/download/194/204/576
Santi, M., Yulianti, Y., & Mulyana, M. (2024). Urgensi Pembukuan Dalam Pengelolaan Keuangan Usaha Mikro. Jurnal Media Informatika (JUMIN), 6(2), 403–409. https://ejournal.sisfokomtek.org/index.php/jumin/article/download/4506/2820/32353
Widiawati, A., & Utami, E. S. (2023). Pendampingan Pembukuan Sederhana pada UMKM di Padukuhan Kauman. Jurnal Pengabdian dan Peningkatan Mutu Masyarakat (Tunas Abdimas),