Oleh:
Stephanus Felix Aldi Santosa (1512100179), Wisnu Aji Pratama (1312200309), Aprilia Jumaisyah (1152200428)
Syahna Shinta Yunari (1222200126), Sanca Odigitria Manesanulu (1612200028)
Bullying tidak pernah sederhana. Di mata orang dewasa mungkin ejekan hanya dianggap sebagai candaan. Namun, di mata anak-anak, tindakan tersebut bisa menjadi luka yang membekas hingga dewasa. Perundungan bukan hanya soal fisik, tetapi juga verbal dan sosial. Selain itu dampak yang dihasilkan juga bisa sangat serius jika tidak ditangani sejak dini.
Melihat kompleksitas ini, muncul invoasi edukatif yang patut diapresiasi: Alat Peraga Edukatif (APE) Kartu Tanggap Bully. Kartu Tanggap Bully ini bukan sekedar media bermain, akan tetapi juga sebagai jembatan komunikasi yang efektif antara anak dan orang tua untuk memahami dinamika sosial di lingkungan mereka.
Kartu Tanggap Bully berisi gambar karakter anak-anak yang sedang menjadi korban perundungan karena berbagai alasan, entah karena fisik, latar belakang keluarga, penampilan atau hal lainnya. Yang menarik dari kartu ini ialah, setiap kartu juga menyajikan dua pilihan reaksi: reaksi positif dan reaksi negatif. Misalnya, pada saar melihat teman diejek karena memakai baju lama, apakah anak akan ikut mengejek (reaksi negatif) atau membela dan menghibur (rekasi positif)?
Anak kemudian diminta memilih salah satu dari dua respons tersebut. Jika anak memilih opsi negatif, maka orang tua atau pendamping tidak boleh sekedar mengoreksi, akan tetapi harus memberikan pemahaman bahwa tindakan tersebut salah, serta menjelaskan mengapa penting untuk bersikap baik, empatik dan suportif terhadap teman yang sedang mengalami bullying. Sebaliknya, jika anak memilih respons positif, amak penting bagi orang tua atau pendamping untuk menguatkan pilihan tersebut, memberi pujian dan menjelaskan mengapa itulah sikap yang benar dalam menghadapi situasi serupa.
Inilah kekuatan utama dari Kartu Tanggap Bully: bukan hanya mengenalkan anak pada konsep bullying, tapi juga mengajak mereka berpikir kritis, merefleksikan nilai-nilai moral, dan melatih empati. Semua itu dilakukan dalam suasana bermain yang menyenangkan dan tidak menggurui. Kegiatan ini juga menjadi momen emas untuk membangun kedekatan emosional antara anak dan orang tua.
Sayangnya, hingga kini masih banyak orang tua berpikir dan pendidik yang belum memiliki akses terhadap alat semacam ini. Padahal, pembentukan karakter sejak usia dini sangat krusial dalam menciptakan generasi yang sehat secara sosial dan emosional.
Sudah saatnya pemerintah daerah, lembaga pendidikan dan komunitas peduli anak mendukung pengembangan serta penyebaran APE Kartu Tanggap Bully ini, Tidak cukup hanya melarang bullying secara verbal disekolah, anak- anak perlu diberi ruang belajar bagaimana bersikap saat melihat atau mengalami perundungan. Cara yang paling efektif bukanlah melalui ceramah panjang, akan tetapi lewat pendekatan visual dan interaktif seperti kartu ini.
Dengan membiasakan anak memilih reaksi positif terhadap bullying sejak dini, kita sedang menanamkan benih generasi masa depan yang lebih berempati, bijaksana dan berani berdiri untuk kebaikan.
Penulis Sub Kelompok 04
KKN R-29
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya