• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Solidaritas Sosial dalam Tradisi Nganggung Sebagai Pembentuk Indentitas Budaya Masyarakat Bangka

Editor Redaksi
5 Juni 2025
in Artikel

Ahmad Hidayah Pratama1, Suchi Melinda2, Feby Sariandita3,
1,2,3 Program studi Sosiologi, Fakutas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Bangka Belitung (Jl. Kampus Terpadu, Balunijuk, Bangka)

ABSTRAK

Tradisi merupakan unsur penting dalam pembentukan identitas budaya masyarakat, salah satunya adalah tradisi Nganggung di Bangka. Tradisi ini berbentuk kegiatan kolektif membawa dulang berisi makanan ke tempat ibadah atau rumah warga dalam momen keagamaan atau adat. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana tradisi Nganggung merepresentasikan solidaritas sosial dan berperan dalam membentuk identitas budaya kolektif masyarakat Bangka. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Nganggung merupakan bentuk solidaritas mekanik yang memperkuat hubungan sosial dan menjadi sarana transmisi nilai-nilai budaya dan keagamaan antar generasi. Tradisi ini juga menjadi identitas simbolik masyarakat Bangka yang membedakan mereka dari komunitas lain serta menjadi media resistensi budaya terhadap homogenisasi global.

Kata kunci: Nganggung, Solidaritas, Tradisi

ABSTRACT

Tradition is an important element in the formation of a community’s cultural identity, one of which is the Nganggung tradition in Bangka. This tradition is in the form of a collective activity of bringing a tray filled with food to a place of worship or a resident’s house during a religious or traditional moment. This study aims to explain how the Nganggung tradition represents social solidarity and plays a role in forming the collective cultural identity of the Bangka community. Using a descriptive qualitative approach, data were obtained through observation, interviews, and literature studies. The results of the study indicate that the Nganggung tradition is a form of mechanical solidarity that strengthens social relations and becomes a means of transmitting cultural and religious values between generations. This tradition is also a symbolic identity of the Bangka community that distinguishes them from other communities and becomes a medium of cultural resistance to global homogenization.

Keywords:Bangka, Nganggung, Solidarity, Tradition

PENDAHULUAN

Tradisi merupakan bagian penting dalam pembentukan identitas budaya suatu masyarakat. Tidak hanya berfungsi sebagai warisan yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi tradisi juga menjadi simbol solidaritas dan kebersamaan. Tradisi bukan sesuatu yang kuno atau hanya ada di zaman dulu, melainkan sesuatu yang masih terjadi hingga saat ini (Lalu, 2010). Salah satu tradisi yang masih bertahan dan menjadi karakter budaya masyarakat Bangka adalah Nganggung, sebuah prosesi membawa dulang berisi makanan ke tempat berkumpul sebagai bentuk kebersamaan (Nunung, 2009, hal. 49). Selain aspek sosial, tradisi Nganggung juga mengandung nilai religius, di mana kegiatan ini biasanya diawali dengan doa dan ceramah yang mempererat ikatan spiritual masyarakat dengan Tuhan. Dengan demikian, Nganggung tidak hanya menjadi media sosial tetapi juga media religius yang memperkuat identitas budaya masyarakat Bangka sebagai komunitas yang religius dan solidar.

Dalam perspektif sosiologis, tradisi Nganggung bukan sekadar kegiatan makan bersama, tetapi juga mencerminkan sistem nilai dan norma yang dijunjung tinggi dalam masyarakat. Nganggung menjadi sarana memperkuat hubungan antarindividu dan kelompok sosial, memperlihatkan bagaimana budaya berperan dalam menjaga kohesi masyarakat. Makna identitas budaya dalam tradisi Nganggung tidak hanya tercermin dalam makanan yang disajikan, tetapi juga dalam simbol-simbol yang hadir dalam prosesi tersebut. Dulang sebagai wadah makanan bukan sekadar alat, tetapi memiliki nilai simbolik yang menunjukkan kesetaraan dalam berbagi. Selain itu, pakaian adat yang dikenakan oleh para peserta menggambarkan kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya mereka.

Dalam kajian sosiologi budaya, identitas suatu kelompok tidak hanya terbentuk secara alamiah, tetapi juga melalui proses sosial yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Nganggung menjadi salah satu mekanisme penting dalam konstruksi identitas masyarakat Bangka. Stuart Hall (1995) dalam tulisannya menjelaskan bahwa ada aspek-aspek dalam identitas budaya yang muncul dari rasa memiliki terhadap budaya khas etnis, ras, linguistik, agama dan budaya lainnya (dalam Suparman, 2022) Setiap individu yang berpartisipasi dalam tradisi ini secara otomatis menjadi bagian dari sistem budaya yang lebih besar, mencerminkan keberlanjutan nilai-nilai komunal yang telah diwariskan dari masa lampau. Tradisi ini berfungsi sebagai mekanisme sosial yang mendukung solidaritas dan keseimbangan komunitas. Dalam konteks ini, Nganggung bukan hanya ekspresi budaya, tetapi juga sarana untuk menjaga harmoni dan keterikatan sosial. Tradisi ini juga berperan sebagai sarana komunikasi dan musyawarah informal yang membantu menjaga keutuhan masyarakat dan mengatasi kesenjangan sosial melalui pembauran dan kebersamaan. Oleh karena itu, Nganggung menjadi simbol solidaritas yang melekat dalam kehidupan sosial masyarakat Bangka dan menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas budaya mereka.

LANDASAN TEORI

Solidaritas sosial mengalami perubahan yang memungkinkan masyarakat mempunyai cara untuk bertahan dan para anggotanya dapat melihat sebagian diri mereka sebagai bagian yang utuh. Menurut Durkheim, Struktur kelompok masyarakat mempuntai pembagian kerja yang sangat besar; namun, dia membagi solidaritas sosial ini menjadi dua kelompok, mekanik dan organik (Diany Rizki, 2020). Pembagian ini dilakukan agar lebih mudah untuk menyimpulkan Menurut Wijaya (2020), solidaritas sosial organik ditandai dengan sekelompok masyarakat yang mempertahankan kebersamaan karena memiliki berbagai tanggung jawab dan pekerjaan. Sebaliknya, solidaritas mekanik ditandai dengan munculnya kelompok masyarakat yang memiliki pekerjaan, aktifitas, dan tanggung jawab yang sama.

Solidaritas mekanik didefinisikan sebagai kelompok orang yang memiliki nilai-nilai yang sama. Semua kepercayaannya dan kesamaan emosionalnya biasanya merupakan tandanya. Karena sebuah kelompok masyarakat menunjukkan kepedulian, akhirnya kebersamaan pun muncul. Karena masyarakat pedesaan memiliki rasa kekeluargaan dan solidaritas yang lebih tinggi dibandingkan masyarakat perkotaan, solidaritas mekanik biasanya terjadi di masyarakat pedesaan. Mereka sudah terbiasa bekerja sama dan membantu satu sama lain, yang dapat menghasilkan solidaritas masyarakat yang lebih erat (Batriatul, 2022:55). Di sisi lain, menurut Emile Durkheim, solidaritas organik muncul karena adanya perbedaan antar individu, dan ini biasanya terjadi di masyarakat perkotaan yang heterogen (Hanifah,2019:41).

Dalam masyarakat tradisional Bangka, Nganggung merupakan ritual kolektif di mana anggota masyarakat membawa makanan dari rumah masing-masing untuk dinikmati bersama. Durkheim menjelaskan bahwa solidaritas mekanik muncul pada masyarakat dengan pembagian kerja sederhana, di mana ikatan sosial dibangun melalui kesadaran kolektif (collective conscience) yang kuat, seperti nilai kebersamaan, gotong royong, dan kesetaraan. Masyarakat Bangka yang mulai terdiferensiasi (misalnya, perbedaan peran dalam penyiapan makanan atau organisasi acara) memperkenalkan unsur solidaritas organik. Durkheim menekankan bahwa interdependensi muncul ketika anggota masyarakat memiliki spesialisasi fungsi. Namun, dalam Nganggung, interdependensi ini tetap terbatas karena tujuan utamanya bukanlah efisiensi fungsional, melainkan pemeliharaan kohesi sosial. Dengan demikian, tradisi Nganggung bukan hanya sekadar aktivitas budaya, melainkan juga cermin dari struktur solidaritas sosial yang menjadi fondasi dalam pembentukan identitas budaya masyarakat Bangka, sebagaimana dipahami dalam kerangka teori Durkheim.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memahami makna sosial dan budaya yang terkandung dalam tradisi Nganggung di masyarakat Bangka. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat dan masyarakat setempat, serta dokumentasi dan kajian literatur terhadap tulisan- tulisan ilmiah maupun sumber sekunder yang relevan. Data yang dikumpulkan dianalisis secara tematik berdasarkan teori solidaritas sosial Emile Durkheim, dengan menekankan pada identifikasi bentuk solidaritas (mekanik dan organik), fungsi sosial tradisi, serta perannya dalam konstruksi identitas kolektif masyarakat. Validitas data diperkuat dengan teknik triangulasi sumber dan metode

PEMBAHASAN

1. Makna Tradisi Nganggung dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Bangka
Tradisi Nganggung memiliki makna yang sangat penting dalam kehidupan sosial masyarakat Bangka. Tradisi ini merupakan warisan budaya yang tidak hanya berfungsi sebagai bentuk perayaan keagamaan, tetapi juga sebagai sarana mempererat hubungan sosial antarwarga. Dalam pelaksanaannya, masyarakat berkumpul di masjid atau balai desa dengan membawa makanan yang diletakkan di atas dulang (talam besar berbentuk bundar) untuk dimakan bersama. Kegiatan ini menjadi simbol nyata dari solidaritas, persatuan, dan nilai kekeluargaan yang tinggi. Nganggung mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan semangat gotong royong dalam masyarakat (Puspita, dkk, 2024). Kegiatan ini mengajarkan pentingnya silaturahmi, saling membantu, dan menghargai satu sama lain sebagai bagian dari komunitas yang harmonis. Nilai-nilai ini terlihat dari keterlibatan seluruh warga tanpa memandang status sosial, usia, atau jenis makanan yang dibawa, karena yang utama adalah semangat berbagi dan kebersamaan.

Lebih dari sekadar pertemuan sosial, tradisi Nganggung juga menjadi media pembelajaran budaya bagi generasi muda. Dalam prosesnya, anak-anak dan remaja dilibatkan untuk membantu menyiapkan makanan, menghias dulang, serta memahami tata cara pelaksanaannya. Dengan demikian, nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tradisi ini dapat diwariskan secara alami dari generasi ke generasi. Nganggung juga

memperlihatkan betapa kentalnya pengaruh agama Islam dalam kehidupan masyarakat Bangka, karena acara ini kerap diadakan pada momen-momen penting seperti Maulid Nabi, Isra Miraj, Idul Fitri, Idul Adha, dan acara adat lainnya. Di sisi lain, tradisi ini juga memperkuat identitas budaya masyarakat Bangka. Karena telah dilaksanakan secara turun-temurun, Nganggung menjadi ciri khas dan kebanggaan masyarakat setempat. Kehadirannya hingga kini menunjukkan bahwa masyarakat masih menjunjung tinggi nilai adat dan tradisi yang diwariskan oleh leluhur mereka. Dalam era modernisasi dan globalisasi, Nganggung menjadi simbol resistensi budaya terhadap arus homogenisasi budaya luar. Ia menjadi penegas bahwa tradisi lokal tetap relevan dan bisa berjalan berdampingan dengan perkembangan zaman.

Saat ini, Nganggung juga telah menjadi bagian dari promosi pariwisata budaya di Bangka Belitung. Pemerintah daerah dan komunitas budaya setempat sering menggelar acara Nganggung dalam skala besar untuk memperkenalkan tradisi ini kepada wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Hal ini membuka peluang ekonomi dan menjadi ajang pengenalan kekayaan budaya lokal kepada dunia luar.

2. Solidaritas Sosial dalam Pelaksanaan Tradisi Nganggung
Tradisi Nganggung menunjukkan karakteristik solidaritas mekanik Durkheim, yang berbasis pada kesamaan, kebersamaan, dan ikatan emosional:

1) Kesamaan Tindakan dan Kepercayaan
Masyarakat menyiapkan makanan dalam dulang dengan tata cara yang sudah disepakati. Keseragaman ini mencerminkan “kesadaran kolektif” yang menjadi dasar dari solidaritas mekanik.

2) Gotong Royong dan Kebersamaan
Kegiatan Nganggung melibatkan partisipasi seluruh warga secara sukarela, mulai dari penyiapan makanan hingga pembagian hasil. Ini menunjukkan ikatan sosial yang timbul dari kesamaan tujuan dan nilai yang terkandung di dalamnya.

3) Nilai Persatuan
Tradisi ini menjadi media untuk menjaga silaturahmi dan persatuan, bahkan dengan pendatang. Slogan “Sepintu Sedulang” (satu pintu membawa satu dulang) menegaskan filosofi kebersamaan dalam keberagaman di dalam masyarakat Melayu Bangka.

Menurut Durkheim, solidaritas mekanik khas masyarakat tradisional dengan pembagian kerja yang sederhana. Hal ini terlihat dalam prosesi me-nganggung (membawa) dulang ke masjid atau rumah hajatan bersifat ritualistik, yang memperkuat identitas komunitas. Terdapat juga kesepakatan bersama terkait enis makanan dan tata cara pelaksanaan tradisi menjadi mekanisme kontrol sosial yang menjaga keteraturan. Dan dalam tradisi Nganggung masyarakat Melayu Bangka mengandalkan kekuatan kelompok, bukan individu, dalam menyelesaikan suatu hajat atau acara bersama. Tradisi Nganggung merupakan manifestasi solidaritas mekanik seperti yang dikatakan Durkheim, yang mana di dalamnya keterikatan sosial dibangun melalui kesamaan aktivitas, kepercayaan kolektif, dan ritual komunal. Meski masyarakat modern cenderung bergeser ke solidaritas organik, Nganggung tetap relevan sebagai perekat sosial yang menjaga identitas budaya Bangka. Tradisi ini menjadi simbol dari jati diri lokal yang dibanggakan dan dipertahankan. Dengan begitu, masyarakat merasa memiliki identitas bersama sebagai “Orang Bangka” atau “Orang Melayu”.

3. Peran Penting Generasi Muda dalam Pelestarian Tradisi Nganggung
Nganggung tidak hanya penting sebagai upacara tradisional, tetapi juga sebagai simbol identitas, alat pemersatu masyarakat, sarana pendidikan karakter, dan aset budaya yang memiliki nilai strategis dalam pengembangan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Bangka.

Generasi muda harus berperan aktif dalam melestarikan tradisi Nganggung
melalui beberapa cara seperti:

1) Mengikuti dan berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan Nganggung,
terutama dalam perayaan-perayaan penting di Bangka

2) Mengadaptasi tradisi Nganggung agar tetap relevan dengan perkembangan zaman, tanpa mengurangi nilai arif di dalamnya

3) Mengimplementasikan nilai-nilai dalam tradisi Nganggung dalam kehidupan sehari-hari. Seperti semangat gotong royong, solidaritas dalam masyarakat, dan nilai spiritual yang dipercayai.

Pelestarian tradisi Nganggung penting dilakukan oleh generasi muda karena tradisi ini merupakan identitas budaya Melayu Bangka yang mengandung nilai-nilai yang arif dalam kehidupan sosial. Jika tradisi ini tidak dilestarikan, maka akan terjadi kepudaran budaya yang pastinya menghilangkan identitas budaya Melayu bangka serta nilai-nilai arif yang terkandung di dalamnya.

KESIMPULAN

Tradisi Nganggung dalam masyarakat Bangka bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi merupakan refleksi dari nilai-nilai solidaritas sosial yang kuat. Tradisi ini memperlihatkan adanya solidaritas mekanik yang dibentuk oleh kesamaan nilai, norma, dan kesadaran kolektif dalam masyarakat. Partisipasi lintas generasi dalam tradisi ini tidak hanya mempererat hubungan sosial, tetapi juga berperan sebagai sarana pewarisan nilai budaya dan pembentukan identitas kolektif masyarakat Bangka. Melalui simbol seperti dulang, pakaian adat, dan praktik kebersamaan, Nganggung menjadi elemen penting dalam memperkuat jati diri komunitas lokal serta menjaga keberlangsungan nilai-nilai luhur di tengah tantangan modernisasi dan globalisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Ferianda, A., Ferdiana, & Herwan. (2022). Kearifan Lokal melalui Makna Nganggung Sepintu Sedulang sebagai City Branding Kabupaten Bangka. Jurnal Ilmu Komunikasi dan Bisnis, 7(2), 163–169.
Johnson, D. P. (1986). Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: PT Gramedia.
Juwita, R., Firman, F., Rusdinal, R., & Aliman, M. (2020). Meta Analisis: Perkembangan struktural fungsional dalam sosiologi pendidikan. Jurnal Perspektif , 3 (1), 1-8.
Lalu, Y. (2010). Makna Hidup Dalam Terang Iman Katolik Seri 2. Yogyakarta.Ferianda, A., Ferdiana, & Herwan. (2022). Kearifan Lokal melalui Makna Nganggung Sepintu Sedulang sebagai City Branding Kabupaten Bangka. Jurnal Ilmu Komunikasi dan Bisnis, 7(2), 163–169.
Puspita, S., Wardiah, D., & Wahidy, A. (2024). K Kearifan Lokal Dalam Tradisi Nganggung di Desa Sekar Biru: Kearifan Lokal Dalam Tradisi Nganggung di Desa Sekar Biru. Lingue: Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra, 6(1).
Ritzer, G. (2013). Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Waluyo, M. E. (2019). Nilai-nilai dan Makna Simbolik Tradisi Nganggung di Desa Petaling Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. UIN Walisongo Semarang.

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.