• Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
JurnalPost
JurnalPost
JurnalPost
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil

Mematahkan Stereotip Gender dalam Dolanan Anak di Solo: Perspektif Orang Tua, Guru, dan Anak-anak

Editor Redaksi
7 Juli 2024
in News

Oleh: Kezia Trisena Parinding

SOLO, JurnalPost.com – Di tengah riuh rendahnya modernisasi, tradisi dolanan anak di Solo tetap hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Di balik keceriaan dan tawaanak-anak yang bermain, ada fenomena menarik yang mencerminkan perjuangan mematahkan stereotip gender. Melalui permainan tradisional seperti dakon, cublak-cublak sueng, gangsing, dan lainnya, anak-anak di Solo belajar tidak hanya tentang budaya, tetapi juga tentang kesetaraan gender, salah satunya di Sanggar Nadinala dan SDN Cemara Dua Solo.

Sanggar Nadinala: Melestarikan Tradisi dengan Semangat Baru
Sanggar Nadinala, yang terletak di Ayom Java Village, telah menjadi tempat berkumpulnya anak-anak untuk bermain dolanan tradisional. Sanggar ini tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menjadi media untuk mematahkan stereotip gender. Kusyani, salah satu orang tua yang anaknya, Kidung, aktif di sanggar ini, berbagi pandangannya.

“Di sanggar ini, Kidung bisa bermain apa saja tanpa harus khawatir tentang apa yang dianggap cocok untuk anak laki-laki atau perempuan. Dia sangat suka bermain dakon dan merias wajah wayang, yang seringkali dianggap permainan anak perempuan,” kata Kusyani.

Yunniarti, ibu dari Zalfa (9 tahun), juga merasakan hal yang sama. “Zalfa suka bermain petak umpet dan cublak-cublak sueng. Saya tidak pernah melarang dia bermain permainan tertentu hanya karena dia perempuan. Saya ingin Zalfa tumbuh tanpa dibatasi oleh stereotip gender,” ujarnya dengan penuh semangat.

Menurut Yunniarti, penting bagi orang tua untuk mendukung anak-anak mereka dalam memilih permainan apa pun yang mereka sukai. “Dolanan adalah bagian dari pembelajaran hidup. Melalui permainan, anak-anak belajar tentang kerjasama, kreativitas, dan keberanian. Tidak seharusnya ada batasan gender dalam hal ini,” tambahnya.

Nur Diatmoko, koreografer dan pendiri Nadinala, mengungkapkan, “Di sini kami mengajarkan anak mengenai nilai-nilai dari setiap permainan yang mereka mainkan sehingga bermain juga menjadi media pembelajaran bagi anak-anak tersebut. Kami mengajarkan arti dan makna seperti kebersamaan, hidup rukun, dan nilai-nilai kehidupan lainnya pada anak-anak.”

Pendidikan di Sekolah: Menggunakan Dolanan sebagai Media Pembelajaran
Di SDN Cemara Dua, dolanan anak digunakan sebagai media pembelajaran, terutama dalam pelajaran olahraga. Miranda, seorang guru di sekolah tersebut, menjelaskan bagaimana mereka mengintegrasikan dolanan dalam kurikulum.

“Permainan tradisional seperti engklek dan lompat tali sangat efektif dalam mengajarkan keterampilan motorik dan kerjasama. Kami mengamati bahwa tidak ada perbedaan

signifikan dalam partisipasi antara anak laki-laki dan perempuan. Semua anak berpartisipasi dengan antusias,” jelas Miranda.

Miranda juga menekankan pentingnya mengajarkan anak-anak tentang kesetaraan melalui permainan. “Kami berusaha menciptakan lingkungan yang inklusif di mana setiap anak merasa nyaman bermain permainan apa pun tanpa takut dihakimi,” tambahnya.

Nimas, seorang anak berusia 7 tahun dari sanggar, berbagi cerita tentang permainan favoritnya. “Saya suka bermain petak umpet dan gangsing. Di sanggar, semua teman-teman saya juga suka bermain permainan ini. Kami tidak peduli siapa yang bermain apa, yang penting kita senang,” kata Nimas dengan penuh keceriaan.

Nayla, yang berusia 11 tahun, memiliki pandangan yang lebih matang. “Kadang-kadang di sekolah ada yang bilang kalau permainan ini itu hanya untuk anak laki-laki atau perempuan, tapi di sanggar kami tidak begitu. Semua permainan untuk semua orang,” katanya tegas.

Rania, 8 tahun, menyimpulkan dengan pandangan sederhana namun kuat. “Yang penting kita semua teman dan bisa main sama-sama,” katanya sambil tersenyum.

Dolanan Anak: Menjembatani Kesenjangan Gender
Permainan seperti dakon, cublak-cublak sueng, gangsing, engklek, wayang, petak umpet, lompat tali, dan bal-bal-an telah lama menjadi bagian dari budaya anak-anak di Solo.
Namun, secara tradisional, beberapa permainan ini sering dikaitkan dengan gender tertentu. Dakon dan lompat tali, misalnya, sering dianggap sebagai permainan anak perempuan, sementara gangsing dan bal-bal-an dianggap sebagai permainan anak laki-laki.

Namun, di Sanggar Nadinala dan SDN Cemara Dua, batasan-batasan ini mulai terkikis. Anak-anak diberi kebebasan untuk memilih permainan apa pun yang mereka sukai, tanpa harus terikat oleh stereotip gender. Ini tidak hanya memungkinkan anak-anak untuk menikmati masa kecil mereka dengan lebih bebas, tetapi juga membantu membentuk generasi yang lebih menghargai kesetaraan dan inklusivitas.

Dari perspektif orang tua, guru, dan anak-anak di Solo, jelas bahwa dolanan anak memiliki potensi besar untuk mematahkan stereotip gender. Dengan dukungan dari sanggar dan sekolah, anak-anak belajar bahwa mereka bisa menjadi apa saja dan bermain apa saja tanpa dibatasi oleh gender. Ini adalah langkah penting menuju masyarakat yang lebih inklusif dan menghargai keberagaman.

Di masa depan, diharapkan semakin banyak orang tua, guru, dan komunitas yang menyadari pentingnya peran dolanan anak dalam membentuk nilai-nilai kesetaraan. Dengan begitu, dolanan anak tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga alat pendidikan yang kuat untuk memupuk generasi yang lebih adil dan inklusif.

Bagikan133MengirimTweet83Print PDF

Baca Juga

PENERAPAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA (TTG) PENGUSIR HAMA TIKUS ULTRASONIK TENAGA SURYA SEBAGAI SOLUSI PENGENDALIAN HAMA RAMAH LINGKUNGAN DI LAHAN PERTANIAN DESA SIDOMUKTI KECAMATAN BUNGAH KABUPATEN GRESIK

Editor Redaksi
15 Juli 2026
0

Dari Baris Kode ke Meja Koperasi: Catatan Divisi Teknologi Tepat Guna di KDMP Sidokumpul

Dari Baris Kode ke Meja Koperasi: Catatan Divisi Teknologi Tepat Guna di KDMP Sidokumpul

Editor Redaksi
14 Juli 2026
0

Foto pendampingan dan evaluasi mengenai website inventaris gudang digital kepada koperasi desa merah putih desa sidokumpul, kecamatan bungah, gresik Oleh:...

Kebakaran Kecil di Area PRJ, Petugas Bergerak Cepat Padamkan Api

Kebakaran Kecil di Area PRJ, Petugas Bergerak Cepat Padamkan Api

Editor Redaksi
3 Juli 2026
0

Penulis: Ardi putra Jakarta, JurnalPost.com - Kebakaran kecil terjadi di area Pekan Raya Jakarta (PRJ), Jumat (20/6/2026). Peristiwa itu sempat...

Langkah Awal Mahasiswa Ilmu Komunikasi Menuju Dunia Profesional : Catatan Magang Velicia Mahasiswa UNTAG di KAI DAOP 8 Surabaya

Langkah Awal Mahasiswa Ilmu Komunikasi Menuju Dunia Profesional : Catatan Magang Velicia Mahasiswa UNTAG di KAI DAOP 8 Surabaya

Editor Redaksi
21 Mei 2026
0

Oleh : Ananda Velicia L. C. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya JurnalPost.com - Perkenalkan nama saya Ananda Velicia Lusiane Cahyawati,...

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya Menjalankan Program Magang Reguler di PT PLN UP3 Surabaya Barat

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untag Surabaya Menjalankan Program Magang Reguler di PT PLN UP3 Surabaya Barat

Editor Redaksi
20 Mei 2026
0

Surabaya, JurnalPost.com – Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak lulusan yang siap terjun ke dunia kerja...

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Home
  • About Us
  • Redaksi
  • Media Kit
  • Kebijakan
© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Halaman Depan Folder 4

© 2025 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.