
JurnalPost.com – Para investor tertarik membangun wisata di Gunung Kidul karena di liat dari goegrafisnnya dan potensi alamnya seperti Bali tetapi menuai kritik dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jogja yang akan berpengaruh buruk pada lingkungan.Gunung Kidul merupakan wilayah kabupaten yang terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta, sesuai namannya daerah ini di dominasi pegunungan dan pantai tidak heran sektor PDRBnya di sumbang dari pariwisata dan nelayannya. Kabupaten Gunung Kidul memiliki luas 1.485,36 km2 dan memiliki 57 pantai yang mempunyai keindahan alam yang luar biasa, tidak heran banyak investor yang melirik Gunung Kidul untuk dijadikan seperti Bali.
Pembangunan Beach Club dan Resort menuai dukungan dan prokontra karena banyak dampak positif dan negatif dari adannya projek ini diantaranya masyarakat di Gunung Kidul memiliki peluang lapangan pekerjaan, pariwisata Gunung Kidul akan terkenal tetapi, banyak oknum yang tidak setuju karena dari adanya projek ini maka akan merusak kelestarian daerah Gunung Kidul.
Artis multitalenta Raffi Ahmad suami dari Nagita Slavina yang juga sukses di bidang properti bersama investor Yogyakarta Arbi Leo ingin membangun resort dan beach club yang berada di kawasan pantai Krakal, Gunung Kidul, Yogyakarta yang di gadang gadang seluas lebih dari 10 hektare, yang diperkirakan akan menjadi yang terbesar di Indoneisa yang akan di bangun mulai tahun 2024. Pembangunan ini akan memiliki 300 villa, resort, dan spa, serta restoran. Dalam unggahan Instagramnya pun, Raffi sudah kerap menampilkan pemandangan indah pantai yang akan dibangun menjadi resort dan beach club. Raffi Ahmad berharap pembangunan beach club miliknya selesai pada tahun 2025, dan Di beach club yang sedang dibangunnya, Raffi Ahmad juga berencana untuk memperkejakan warga setempat.
Selain itu, ada juga beberapa investor lain yang telah menanamkan modalnya di Gunung Kidul, seperti Jungwok Blue Ocean. Pembangunan ini diperkirakan akan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar, meningkatkan infrastruktur di Gunung Kidul, serta menambah warna pariwisata di Gunung Kidul.
Bupati Gunung Kidul, Sunaryanta setuju dengan adanya projek ini, karena bisa menarik para investor untuk memajukan pariwisata di Gunung Kidul yang membuat perekonomian masyarakat terdongkrak dan bisa menambah PDRB.
Memajukan pariwisata di Gunung Kidul memang juga program unggulan dari bupati Gunung Kidul agar tercipta lapangan pekerjaan dan wisata gunung kidul bisa terkenal di kancah internasional seperti Bali, tujuannya untuk mendongkrak perekonomian di Gunung Kidul. “bahkan di gunung kidul kawasan selatan sudah menarik 3 investor di tahun 2023 yang sudah di bangun wahana wisata” ujar Sunaryanta.
Dari adanya investor yang ingin membangun pariwisata di Gunung Kidul menuai kritik dari WALHI Jogja karena pembangunan projek oleh investor ini akan berdiri di kawasan Bentengan Alam Karst (KBAK) Gunungsewu yang akan berpengaruh pada lingkungnnya. Sementara itu keterangan dari WALHI Jogja menyebut bahwa resort dan beach club milik Rafi Ahmad dan sejumlah investornya akan menbrak Permen ESDM nomer 17 tahun 2012 tentang KBAK. Padahal kawasan Benteng Alam Karst (KBAK) merupakan kawasan lindungan geologi, sebagai kawasan lindungan nasional yang mana pemanfaatannya tidak bolek berpotensi merusak.
“Di bagian timur Kawasan Bentangan Alam Karst (KBAK) Gunungsewu, proyek tersebut akan membentang seluas 10 hektare. Namun, Permen Nomor 17 tahun 2012 menetapkan Kawasan Bentang Alam Karst sebagai kawasan lindung geologi yang termasuk dalam kawasan lindung nasional. Artinya, pemanfaatannya tidak boleh merusak kawasan bentang alam karst”, tulis rilis WALHI yang dirilis pada Kamis (21/12)
Projek yang di gadang gadang para investor akan menjadi seperti Bali bisa saja di gagalkan karena dari pertimbangan yang akan merusak lingkungan. Menurut keterangan Elki “masih bisa di gagalakan karena projek ini belum ada amdalnnya” Dikutip dari Detik Jogja melalui pesan singkat, Kamis (21/12/2023).
Namun, para warga setempat banyak yang tidak setuju tentang dibangunnya beach club di Gunung Kidul ini dengan alasan karena warga setempat beresiko kehilangan lahan resapan air yang menjadi cadangan air bagi mereka, dan mengancam Kawasan linding karst.
“Yang dikhawatirkan warga setempat ke depan, jika dibangun resort atau hotel yang cukup tinggi di daerah Pantai Gunung Kidul, otomatis itu membutuhkan pondasi yang cukup dalam, Kita khawatir bahwa pembangunan resort akan merusak karst yang ada di sana. Ini juga akan mengganggu aliran air tanah di Gunungkidul.” kata Adnan salah satu warga setempat yang dihubungi wartawan.
Adnan menyatakan bahwa pemkab harus segera mengambil tindakan untuk menyelesaikan masalah ini. Jika tidak, warga Gunungkidul khawatir akan tersingkir. Namun, hanya segelintir orang dari kalangan pemodal yang menikmati sektor pariwisata.
Dalam menanggapi pertanyaan ini, Sekda Gunungkidul Drajat Ruswandono menyatakan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan di beberapa lokasi wisata hingga saat ini. Dia menegaskan bahwa jika mereka menemukan upaya privatisasi lokasi wisata, mereka akan bertindak.
Penulis :
1. Faradhita Aulia Rizky Maharani
2. Riska Rinjani
3. Nurul Aini



