
Oleh : Fahriza Rifalsyah (Mahasiswa Prodi Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University
JurnalPost.com – Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) politik uang atau money politic adalah suap atau uang sogok. Fenomena kasus politik uang saat masa Pemilihan Umum kerap terjadi. Pasalnya banyak sekali calon legislatif yang melakukan money politic dalam mencari suara kepada masyarakat.
Tingginya praktik politik uang saat kampanye didukung dengan rendahnya pemahaman SDM (Sumber Daya Manusia) Di Indonesia terkait hal tersebut. Tak hanya itu, nyatanya banyak sekali masyarakat Indonesia yang masih mengharapkan uang saat ada para calon legislatif melakukan kampanye. Hal ini membuktikan rendahnya pola pikir masyarakat Indonesia terkait politik uang.
Politik uang pada Pemilu 2024 pun juga masih kerap terjadi khususnya pada daerah-daerah pelosok yang masyarakatnya masih mudah untuk dikelabui. Akal-akalan dari politik uang semakin menjadi-jadi yang dimana beberapa kali ditemukan dengan alibi tebus minyak murah, tebus sembako murah, pembagian kaos, pembagian sembako. Hal tersebut juga merupakan tindak suap dalam kegiatan kampanye.
Larangan politik uang sendiri tertera pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 Pasal 93 huruf (e), yakni mencegah terjadinya praktik politik uang. Sehingga perlu adanya ketegasan untuk menindaklanjuti pelanggaran-pelanggaran politik uang.
Mindset Masyarakat
Pemikiran masyarakat sangat berpengaruh bagi berjalannya politik uang. Masyarakat Indonesia selalu mengedepankan tentang uang bahkan memilih calon legislatif berdasarkan berapa jumlah uang terbanyak yang diberikan. Pantas saja jika Indonesia tidak menjadi negara yang maju, banyak sekali demonstrasi-demonstrasi yang kontra terhadap pemerintah saat masa jabatan tetapi bertolak belakang ketika masa Pemilu.
Masyarakat seperti kucing yang akan selalu menerima ikan dari siapapun. Masyarakat Indonesia akan menjilat ludahnya sendiri, mereka tidak akan memikirkan visi serta gagasan kedepannya ketika sudah disodorkan uang.
Mindset masyarakat Indonesia yang lainnya yakni selalu beranggapan “siapapun yang memenangi pemilihan legislatif kedepannya tetap cari makan sendiri.” Mindset kuno tersebut yang harus diubah oleh masyarakat Indonesia. Karena, nantinya yang akan menentukan kebijakan-kebijakan yang sangat berpengaruh bagi masyarakat salah satunya adalah para legislatif.
Transformasi Kampanye Kuno
Maraknya politik uang juga didukung dengan kampanye-kampanye kuno yang tidak tidak berani adu gagasan, tidak berani sampaikan visi kedepan, tidak berani sampaikan dampak kedepannya. Cara kampanye yang masih banyak diterapkan hanya dengan melakukan sesuatu hal yang simpel yang membuat mindset masyarakat tidak akan berkembang.
Jarang sekali ditemukan para calon legislatif yang berani untuk adu gagasan kepada masyarakat, sehingga mindset masyarakat sudah terbentuk dengan budaya kampanye yang kuno dan menyesatkan. Terbukti pula pada alat peraga kampanye yang biasanya hanya berisi sesuatu yang tidak jelas tanpa adanya visi misi yang diusung.
Transisi cara berkampanye sudah harus dilakukan dan diberikan keketatan serta pengawasan yang jelas agar kampanye ini berjalan sebagaimana mestinya. Perlu adanya cara baru dan kekinian dalam berkampanye. Perlu ditanamkan budaya bahwa kampanye adalah cara untuk mengajak memilih dengan gagasan, visi, misi dan program kerja kedepannya bukan dengan uang ataupun barang.
Menghilangkan budaya yang sudah terbiasa pada masyarakat luas memang sulit, untuk mengubahnya perlu tindakan pemerintah serta pola pikir masyarakat dalam menanggapi kasus politik uang.
Memulai Perubahan
Saat masa kampanye pastinya akan banyak para calon legislatif yang akan mengunjungi masyarakat untuk mengajak memilih mereka. Maka pada saat itulah masyarakat perlu paham bahwa yang terpenting adalah gagasan, visi, misi, serta program kerja kedepannya. Masyarakat diwajibkan menolak serta melaporkan apabila terjadinya politik uang saat kampanye.
Pentingnya masyarakat untuk bijak dalam menyikapi kasus politik uang. Marilah menjaga kestabilan politik saat Pemilu, dengan memulai perubahan dan bijak menyikapi kampanye politik uang. Ketika perubahan tersebut terjadi secara serentak, maka Indonesia menjadi negara maju bukan hanya menjadi angan-angan saja karena masyarakatnya sudah dapat bijak dalam memilih pemimpin dan jajaran yang visinya sangat baik untuk Indonesia di masa mendatang. (fahriza rifalsyah)



