Amanda Putri Fakhrana
Mahasiswa Sekolah Vokasi IPB University
Program Studi Komunikasi Digital dan Media
JurnalPOst.com – Literasi digital adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan, mengevaluasi, dan memahami informasi yang disajikan dalam berbagai format digital. Dalam literasi digital tentunya mencakup beberapa hal seperti kemampuan untuk mengakses, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efektif dari berbagai sumber digital, termasuk internet, media sosial, dan teknologi digital lainnya. Literasi digital menjadi salah satu hal yang sangat penting dilakukan terutama pada era pemilu.
Pada saat era pemilu seperti saat ini, media digital dipenuhi dengan informasi dan berita mengenai politik yang sangat beragam. Literasi digital tentu menjadi kemampuan yang sangat penting untuk memilah antara informasi yang valid atau hoax. Tentunya dalam hal ini literasi digital menjadi kunci dalam menjaga integritas demokrasi. Inilah mengapa literasi digital memegang peran yang sangat penting dalam proses demokrasi, terutama di era pemilu.
Literasi digital yang tidak terlaksanakan dengan baik terutama di era pemilu dapat memiliki dampak negatif yang signifikan, baik pada tingkat individu maupun pada tingkat masyarakat secara keseluruhan. Dampak yang paling utama dari tidak terlaksananya literasi digital pada era pemilu adalah rentan mendapatkan dan percaya terhadap informasi yang tidak valid dan berita hoax. Jika seorang individu atau suatu kelompok tidak melakukan literasi digital dan percaya terhadap informasi yang tidak valid serta berita hoax tentu hal ini dapat sangat merusak dan menganggu integritas demokrasi.
Seorang individu atau suatu kelompok yang kurang literasi digital rentan terhadap manipulasi opini publik yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal ini tentu dapat berupa penggunaan algoritma media sosial untuk menyajikan informasi yang tendensius atau penyebaran hoaks yang dirancang untuk mempengaruhi pandangan politik dan perilaku pemilih. Perlu diingat bahwa manipulasi opini publik melalui bahasa dapat memiliki konsekuensi yang signifikan terhadap proses demokrasi dan masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting bagi pemilih untuk menjadi kritis terhadap informasi yang mereka terima dan memeriksa kebenaran klaim sebelum membuat keputusan di tempat pemungutan suara.
Dalam konteks pemilu ini tentunya literasi digital menjadi peran yang sangat penting agar tehindar dai hal-hal yang tidak dinginkan seperti yang sudah dibahas sebelumnya. Selain itu, literasi digital juga memiliki peran penting dalam mencegah penyebaran disinformasi seperti informasi tidak valid dan berita hoaks yang akan timbul selama periode pemilu. Adapun cara yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan literasi digital untuk menyaring informasi yang tidak valid dan berita hoax adalah sebagai berikut :
1. Memeriksa Sumber Informasi dan Berita
Sebagai pemilih yang sedang menentukan pilihannya tentu akan dengan rutin mencari infromasi dan berita mengenai pilihannya. Hal tersebut tentu harus dilakukan secara bijak dan hati hati, salah satunya adalah dengan memeriksa sumber informasi dan berita tersebut dengan melihat reputasi dan kredibelitas suatu situs atau sumber informasi dan berita tersebut.
2. Memahami Ciri-Ciri Hoax
Literasi digital melibatkan pemahaman tentang ciri-ciri umum hoaks, seperti judul yang menarik perhatian, ketidakjelasan sumber informasi, atau kurangnya bukti yang valid. Dengan memahami ciri-ciri ini, tentunya sebagai pemilih dapat lebih waspada terhadap informasi yang diragukan kebenarannya.
3. Memvalidasi Fakta dengan Data
Literasi digital memungkinkan seorang pemilih untuk memvalidasi fakta dengan data yang dapat diverifikasi. Seorang pemilih dapat mencari statistik, survei, atau laporan resmi untuk mendukung atau menentang klaim yang dibuat dalam informasi politik.
4. Memfilter Informasi dan Berita
Sebagai seorang pemilih tentu harus busa menggunakan keterampilan filter informasi untuk menyaring informasi yang relevan dari informasi yang tidak relevan atau tidak akurat. Hal ini dapat melibatkan dan dilakukan dengan penggunaan kata kunci yang tepat dalam pencarian online atau mengikuti sumber informasi yang terpercaya.
5. Bijak dalam bersosial media
Seorang pemilih dapat menggunakan media sosial dengan bijaksana yaitu dengan memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya lebih jauh. Hal ini tentu sangat berguna untuk menghindari semakin tersebar luasnya informasi tidak valid dan berita hoax ke masyarakat luas.
Dengan menerapkan keterampilan literasi digital diatas, tentunya sebagai seorang pemilih akan dengan mudah membuat keputusan politik yang lebih terinformasi, mengurangi risiko terpengaruh oleh manipulasi atau disinformasi, dan berpartisipasi secara aktif dalam proses demokrasi pemilu dengan bijaksana.
Mari bersama-sama meningkatkan literasi digital terutama di era pemilu ini. Dalam dunia yang didominasi oleh informasi digital, kemampuan untuk memahami, menilai, dan menggunakan informasi secara bijaksana sangat penting dalam membuat keputusan politik yang terinformasi. Dengan meningkatkan literasi digital, tentu dapat menjadikan seorang pemilih lebih cerdas dan kritis, mampu membedakan antara fakta dan hoax, serta mengenali upaya-upaya untuk memanipulasi opini publik.
Literasi digital yang kuat, tentu dapat membangun masyarakat yang lebih terdidik, terhindar dari informasi yang tidak valid dan berita hoaxserta berpartisipasi aktif dalam proses demokrasi, sehingga mampu mengambil peran yang lebih besar dalam membentuk masa depan negara kita. Jadilah agen perubahan positif dan bijak dengan meningkatkan literasi digital.



