
Oleh : Athiyyah Dzakirah, Mahasiswa Sekolah Vokasi IPB University
JurnalPost.com – Artificial Intelligence atau yang biasa disingkat AI merupakan salah satu contoh bentuk kemajuan teknologi di era digitalisasi saat ini. AI hadir untuk membantu manusia dalam memecahkan masalah dan melakukan pekerjaan. Dengan kecerdasan yang dimiliki, AI mampu menyelesaikan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh manusia, mulai dari yang sederhana hingga kompleks.
AI menggunakan algoritma yang memungkinkan AI belajar dari data yang ada dan membuat keputusan atau tindakan berdasarkan pemahaman yang didapatkan dari data tersebut. Hal tersebut memberikan potensi besar AI untuk mengubah kehidupan manusia di masa yang akan datang, karena AI dapat menyelesaikan masalah dengan cepat dan efisien.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sudah sering menemukan teknologi AI, seperti asisten virtual, GPS Navigation, media sosial, fitur rekomendasi konten, chatbot, search engine, game online, m-banking, dan masih banyak lagi. Semua kemudahan ini bisa didapatkan berkat kehadiran AI.
Pada asisten virtual dimana kecerdasan buatan akan mempelajari rutinitas kehidupan manusia kemudian mengumpulkan data-data yang didapatkan dan akan dijadikan bahan untuk membantu manusia tersebut, misalnya mengingatkan jadwal atau acara penting. Begitu pula pada search engine, kecerdasan buatan akan mempelajari kebiasaan dari pengguna. Ketika pengguna memasukkan keyword, system akan secara otomatis menampilkan beberapa rekomendasi informasi berdasarkan keyword tersebut.
Dalam bidang pendidikan, AI juga dapat dimanfaatkan untuk mengakses informasi atau bahan pelajaran yang mungkin tidak tersedia di buku pelajaran. AI dapat memberikan informasi dari berbagai sumber. Informasi dari berbagai sumber tersebut akan disaring dan memberikan informasi yang langsung fokus pada topik yang dicari.
AI juga banyak digunakan di berbagai bidang lainnya, seperti peluncuran fasilitas kesehatan berbentuk mobile application dalam bidang kesehatan, munculnya aplikasi belanja online dalam bidang bisnis. AI diprediksi akan menggantikan pekerjaan-pekerjaan lama sekaligus memunculkan pekerjaan-pekerjaan baru bagi manusia.
AI telah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari manusia dan terus berkembang. Perkembangan AI seperti pisau bermata dua, di satu sisi kehadiran kecerdasan buatan ini mampu meringankan pekerjaan manusia, namun di sisi lainnya, AI juga dikhawatirkan akan mengancam sektor pekerjaan yang telah ada.
AI mengancam pekerjaan manusia berarti ada kemungkinan peningkatan angka pengangguran. Pekerjaan yang dulunya dikerjakan oleh manusia, perlahan tergantikan. Misal pekerjaan dalam bidang pemrograman dapat digantikan oleh AI karena AI dapat bekerja lebih optimal dalam membuat kode pemrograman. Pekerjaan desain grafis juga bisa merasakan dampaknya. Saat ini ada teknologi AI berbasis gambar yang bisa membuat gambar sesuai dengan deskripsi yang dituliskan. Contoh kasus tersebut memberi kesan bahwa saat ini semua bisa dilakukan dengan mudah menggunakan AI.
Setiap perkembangan teknologi pasti memiliki nilai plus dan minusnya, termasuk kecerdasan buatan atau AI. Hal ini menimbulkan rasa khawatir pada manusia ketika kemudahan-kemudahan yang dirasakan malah berbalik menjadi bumerang bagi manusia itu sendiri. Kekhawatiran ini dapat muncul karena manusia belum mengenal dan memahami sepenuhnya bagaimana menggunakan AI dengan tepat dan cermat.
Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat berita bahwa robot (AI) bisa mencuri pekerjaan manusia, Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi manusia. Walaupun AI tidak benar-benar bisa menyamai kemampuan yang dimiliki manusia, namun AI cukup unggul dalam kecepatan dan efisiensi waktu dalam melakukan suatu pekerjaan yang mungkin perlu waktu lebih lama bagi manusia untuk melakukannya.
Bagi beberapa orang, AI mungkin terasa seperti muncul secara tiba-tiba. Sehingga wajar saja beberapa orang merasa kaget dan cemas dengan kemajuan teknologi tersebut. Menurut penulis, itu adalah hal yang wajar saja. Namun penulis rasa kecemasan yang berlebihan pun tidak akan memberi solusi.
Sebagai pengguna AI, manusia harus bisa bersikap bijak dan hati-hati dalam menggunakan AI. Jika tidak, AI akan menjadi ‘senjata makan tuan’ bagi manusia itu sendiri. Jangan sampai manusia terlena dengan kemudahan yang ditawarkan oleh AI dan terlalu mengandalkan kecerdasan buatan tersebut.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan manusia jika tidak ingin AI menguasai manusia sepenuhnya. Pertama, pikirkanlah hal yang inovatif. AI biasanya hanya melakukan tugas yang bersumber dari rutinitas manusia secara otomatis. Maka perlu adanya inovasi baru yang belum pernah terlintas sebelumnya.
Kedua, selain inovatif, manusia juga harus kreatif. AI belum bisa sekreatif manusia. Jadi catatlah ide-ide kreatif yang bermunculan di kepala dan sebisa mungkin ide-ide tersebut direalisasikan agar fungsi otak manusia pun dapat terus berjalan.
Ketiga, manusia tidak boleh menelan mentah-mentah setiap informasi yang didapatkan melalui penggunaan AI. Harus dilakukan verifikasi, validasi, dan evaluasi terhadap informasi didapatkan dari AI.
Terakhir, jadikanlah AI sebagai teman. AI mungkin memiliki potensi dalam efisiensi dan menciptakan peluang baru. Namun kreativitas, pemikiran yang mendalam, dan kemampuan beradaptasi hanya dimiliki oleh manusia. Jadi anggaplah AI sebagai teman yang membantu dan melengkapi apa yang mungkin belum bisa dicapai oleh manusia.
Intinya adalah dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan ini manusia diharuskan untuk tidak malas berpikir dan terus berusaha meningkatkan kemapuan dan pemahaman terkait penggunaan teknologi. Manusia juga harus melihat perkembangan teknologi ini dengan kacamata positif. Dengan demikian, dampak-dampak buruk yang ditimbulkan dari kecerdasan buatan ini bisa di minimalisir atau bahkan diubah menjadi dampak yang positif bagi keberlangsungan hidup manusia.



