JurnalPost.com – Identitas berasal dari Bahasa inggris yaitu identity yang berarti sebuah tanda atau ciri-ciri yang melekat pada seseorang untuk membedakannya dengan orang lain. Namun, identitas tidak mnegacu kepada seseorang atau individu saja, tetapi juga dapat dilekatkan pada suatu kelompok dengan mengacu bahwa arti dari identitas adalah sebuah ciri atau sifat khas sesuai dengan ciri dari seseorang, suatu kelompok, komunitas atau negara sendiri. Sedangkan Nasioal merupakan sebuah identitas yang dapat mencakup kelompok-kelompok yang lebih besar dan luas seperti negara atau bangsa. Jadi, dapat diartikan bahwa identitas nasional merupakan sebuah identitas yang dimiliki oleh suatu negara atau bangsa sesuai dengan ciri khas mereka seperti kesamaan budaya, Bahasa, sosial, politik maupun agama.
Kaitannya identitas nasional dengan geopolitik yaitu ketika sebuah etnis atau masyarakat suatu negara tersebar di wilayah perbatasan, hal tersebut menjadi pertanyaan setidaknya adalah suatu rezim legitimasi teritorial negara. Persebaran etnis ini dapat menjadi sumber utama konflik territorial suatu negara dengan negara tetangganya. Suatu negara biasanya bahkan cenderung tidak memiliki konflik dengan negara tetangganya kecuali ada permasalahan dengan motif ekonomi atau politik yang kuat untuk menekan klaim territorial.
Dalam kasus ini, mengacu kepada teori identitas nasional yang menjelaskan suatu kelompok atau individu mempunyai identitas dan ciri khasnya masing-masing berdarkan kesamaan budaya, Bahasa, sosial, politik, mapunun agama dan bagaimana sebuah negara-negara dalam geopolitik nya tidak akan memiliki sebuah konflik teritorial dengan negara tetangga kecuali jika terdapat motif ekonomi dan politik. Dalam teori ini juga menjelaskan persebaran penduduk yang melebihi lintas batas negara dapat menjadikan sumber utama konflik tersebut terjadi karena persebaran etnis tersebut menjadi sebuah pertanyaan. Jika kita melihat dan mundur ke waktu sebelum Perang Dunia 1, Jungholz masih termasuk ke dalam wilayah Jerman yang merupakan hasil dari feodal Jerman.
Akan tetapi, pasca Perang Dunia 1 Jerman menjual wilayah Jungholz dikarenakan adanya permasalahan ekonomi dan politik pada saat itu. Sejak saat itu, Austria resmi menjadi bagian dari wilayah Austria tetapi agar dapat masuk ke Jungholz jalan masuk nya hanya dapat diakses melalui Jerman. Hal tersebutlah yang menjadikan warga Austria melakukan aktifitas kehidupannya lebih banyak di Jerman dan untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya didapatkan dari wilayah Jerman seperti akses kesehatan, Pendidikan, dan bahan pokok makanan. Letak geografisnya yang aneh menjadikan kehidupan masyarakat Austria mengalami kerumitan dikarenakan mereka memiliki dua kode pos yaitu Jerman dan Austria. Letak geografisnya yang aneh membuat mereka tidak dianggap sebagai masyarakat Jerman dan Austria, di Austria mereka tidak dianggap sebagai bagian dari wilayahnya karena letaknya yang jauh dan di Jerman tidak dianggap karena Jungholz sudah termasuk ke dalam wilayah Austria sejak penjualan wilayah dan karena itu mereka dipertanyakan sebagai etnis yang berasal dari mana.
Jungholz menjadi sebuah wilayah bebas bea cukain dan karena itu mereka telah melakukan perdagangan bebas dengan Jerman selama hamper 90 tahun. Hal tersebut lah yang menjadikan wilayah ini menjadi ibu kota perbankan luar negeri yang memberikan dampak keuntungan pajak bagi investor dari Jerman. Tahun 2008 sebagai puncak perbankan Junngholz di desa Volksbank, Sparkasse dan raiffesisenbank yang memiliki simpanan lebih dari €4 milliar. Sejak saat itu, mendorong UE untuk menuntut tingkat transparansi yang lebih ketat dan adanya pengawasan yang lebih ketat untuk menghindari pajak lintas batas negara pada tahun 2014. Hal tersebut, sebagai akhir dari Jungholz sebagai ibu kota luar negeri perbankan, milliaran investor mulai meninggalkan Jungholz dan eksodus perbankan yang terjadi secara besar-besaran mulai terjadi. Sudah tidak ada investor, wilayah-wilayah pariwisata mulai kosong tidak ada turis dan perbankan yang mulai beralih fungsi.
Oleh: Muhammad Rizki Maulana
Mahasiswa Hubungan Internasional
Universitas Teknologi Yogyakarta



