
Aisya
2240301204
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Tidar Magelang
JurnalPost.com – Hal yang sering dialami oleh mahasiswa dalam perkuliahan tatap muka adalah sering kehilangan fokus. Penyebabnya adalah penggunaan gawai di dalam kelas pada saat pembelajaran berlangsung. Salah satu jenis gawai yang paling sering digunakan dan mudah dibawa setiap hari oleh mahasiswa adalah handphone, yaitu benda persegi panjang berukuran 6-7 inch dengan jenisnya yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan OS android dan iOS serta berbagai macam merek yang mereka gunakan.
Saat pembelajaran berlangsung beberapa dosen memberikan aturan pada mahasiswanya untuk menyimpan handphone mereka atau kata lainnya adalah mahasiswa dilarang bermain menggunakan gawai tersebut. Harapannya mahasiswa akan fokus mendengarkan hal-hal yang disampaikan oleh dosen. Namun, di sisi lain mahasiswa juga harus sadar diri dan paham situasi serta kondisi di mana ia berada juga sedang melaksanakan hal apa. Belajar adalah kewajiban. Menghargai orang lain adalah hak seseorang. Oleh karena itu, sebagai seorang mahasiswa yang umumnya sudah dianggap berusia dewasa dan dapat memutuskan suatu hal yang benar dan salah dapat melaksanakan aturan yang tidak tertulis tersebut, yaitu fokus mendengarkan pembicaraan dosen, hargai pembicaraan dosen.
Handphone memang bisa menjadi alasan sebagai motivasi belajar dan sebagai benda pelarian saat tubuh dan pikiran mulai lelah dalam memproses pelajaran. Tetapi bukan berarti sebagai alasan untuk melonggarkan fokus dan tidak menghargai seseorang.
Mahasiswa harus mulai meningkatkan kesadaran dan menghargai waktu mereka. Jika terus-terusan memainkan handphone saat pembelajaran berlangsung waktu mereka hanya akan terbuang sia-sia. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi intensitas penggunaan handphone saat pembelajaran berlangsung dapat dengan cara berikut. Pertama coba masukan handphone ke dalam tas atau matikan handphone saat dosen telah memasuki kelas. Mulailah perhatikan arah depan di mana dosen berada dan fokus saat pembelajaran dimulai. Jika dengan cara tersebut tidak berhasil maka lakukan cara kedua ini. Saat pembelajaran berlangsung dengan keadaan handphone masih di dalam tas, keluarlah dari kelas dengan meminta izin terlebih dahulu pada dosen. Di luar kelas bisa mencari udara segar untuk menyegarkan otak agar tidak merasa mengantuk dan tidak bosan. Cara ketiga bisa dengan menyusun atau merangkai kata untuk ditanyakan kepada dosen. Kebanyakan dosen suka sekali jika mahasiswanya aktif. Aktif bertanya, aktif memberi tanggapan, dan aktif menjawab dari sudut pandang mahasiswa sendiri.
Pada saat presentasilah mahasiswa akan tahu bagaimana rasanya dihargai dan menghargai. Berbicara di depan umum tidak mudah. Butuh kepercayaan diri yang penuh, atensi yang tetap dari khalayak, bagaimana caranya agar tetap didengarkan, berwibawa, tidak gugup, tidak terbata, pandai menyusun kalimat-kalimat yang menarik, dan terakhir isian materi harus berbobot, sesuai juga mudah dipahami oleh teman-teman mahasiswa yang mendengarkan.
Pada saat presentasi ini juga keaktifan mahasiswa diuji. Antar mahasiswa akan saling unjuk kemampuan intelektual mereka dalam menangkap pembahasan materi. Dari ajuan pertanyaan, jawaban yang memuaskan dan tidak memuaskan, perdebatan jawaban yang dilontarkan, sanggahan jawaban, tambahan jawaban, adu argumen, tanggapan serta saran.
Begitulah hal-hal yang terjadi pada saat perkuliahan tatap muka mahasiswa berlangsung. Pada intinya saat kuliah, mahasiswa dituntut untuk aktif berpikir maupun berkomunikasi. Mahasiswa harus pandai menyuarakan pendapat, tidak ragu-ragu mengeluarkan isi pikiran saat sedang kelas berlangsung, dan menghargai dosen, teman sekelas, seseorang yang sedang berbicara bahkan siapa pun orang tersebut.



