26.9 C
Jakarta
Kamis, April 22, 2021

Politik Pendidikan Dalam Pengembangan Kesadaran Kritis

Oleh : Nur Fattahul Alim

Jurnalpost – Rohman (2009) menyatakan bahwa mayoritas masyarakat memiliki keinginan untuk maju berkembang menjadi lebih baik. Keinginan tersebut selalu diupayakan melalui berbagai cara, salah satunya adalah melalui kegiatan pendidikan.

Pendidikan menjadi salah satu cara yang dipilih untuk meraih kemajuan. Misalnya masyarakat Sparta, pada era Yunani Kuno, melalui pendidikan menginginkan agar warga negaranya memiliki mutu diri berupa” kepribadian satria” sedangkan masyarakat Athena menginginkan warga negaranya memiliki mutu diri berupa”kecerdasan”.

Upaya memajukan masyarakat melalui pendidikan dalam rangka mewujudkan mutu sumber daya anggota masyarakat, agar menjadi sumber daya pembangunan, dapat dicapai dengan sebuah rekayasa politik. Rekayasa politik yang dimaksud adalah penetapan pendekatan, metode, strategi perumusan dan penerapan kebijakan politik yang mengatur secara ketat penyelenggaraan pendidikan. Dengan kata lain, rekayasa politik dilakukan melalui perumusan dan penerapan kebijakan pendidikan. Kebijakan pendidikan dimaksudkan sebagai keseluruhan keputusan serta perundang-undangan hasil dari proses dan produk politik yang mengatur penyelenggaraan pendidikan.

Pada zaman orde baru, salah satu tujuan pendidikan adalah mendukung pembangunan nasional. Oleh karenanya produk pendidikan diarahkan untuk menjadi pekerja. Setelah selesai dari bangku pendidikan mereka masuk ke dalam dunia kerja, siap menjadi kuli yang diperintah oleh atasan atau majikannya tanpa harus melakukan protes apapun.

Hasil yang diperoleh, ketika kondisi menjadi demikian, maka pendidikan pun bukan lagi melahirkan para terdidik yang siap mengabdi kepada bangsa dan negara untuk melakukan perubahan, namun mereka berada di bawah kendali para penguasa, dan elemen lainnya yang memiliki modal besar. Posisi mereka digunakan sebagai penyokong keberlangsungan dan kemajuan usaha para majikannya.

Apa yang diutarakan oleh Yamin (2009) diakui maupun tidak dalam era orde baru, pendidikan telah dimuarakan pada pembangunan ekonomi, maka yang terjadi kemudian adalah produk-produk pendidikan yang tidak memiliki kepekaan sosial yang tinggi, karena yang dikejar dalam dunia pendidikan adalah, setelah mencari ilmu atau mengenyam pendidikan, mereka harus bekerja, mendapatkan uang, dan melangsungkan kehidupannya masing-masing. Jika kemudian diharapkan untuk memikirkan persoalan bangsa, maka itupun sangat mustahil bisa terjadi.

Pendidikan bertujuan sangat mulia, yakni untuk melahirkan produk-produk pendidikan yang peduli terhadap persoalan bangsa dan ikut membangun bangsanya dengan lebih baik di masa mendatang. Pendidikan di zaman orde baru secara sengaja maupun tidak sengaja, diarahkan sebagai pekerja, sebab di situ ada kepentingan politis yang sedang dijalankan oleh sebuah rezim tertentu.

Kepentingan politis yang ada adalah politik penumpulan kepekaan sosial dan penumpulan sikap kritis terhadap lingkungan sekitar, sehingga akan menjadikan penguasa lebih mudah untuk menjalankan tujuan-tujuannya, sebab tidak ada yang melakukan protes penolakan, atau kritik terhadap sebuah kebijakan penguasa yang dilahirkan.

Semua peserta didik ketika sedang menimba ilmu dan pendidikan, dicekoki ilmu yang hanya menekankan kemampuan kognitif, sedangkan kemampuan afeksi dan psikomotorik yang melatih peserta didik untuk peduli dan perhatian serta kritis terhadap realitas sosial tidak ditanamkan sama sekali.
Menurut paradigma kritis, pendidikan merupakan arena perjuangan politik. Dalam perspektif kritis, urusan pendidikan adalah melakukan refleksi kritis, terhadap ‘the dominant ideology ke arah transformasi sosial.

Tugas utama pendidikan adalah menciptakan ruang, agar sikap kritis terhadap sistem dan sruktur ketidakadilan, serta melakukan dekonstruksi dan advokasi menuju sistem sosial yang lebih adil. Pendidikan tidak bisa bersikap netral, bersikap objektif maupun berjarak dengan masyarakat (detachment) seperti anjuran positivisme.

Visi pendidikan adalah melakukan kritik terhadap sistem dominan sebagai pemihakan terhadap rakyat kecil dan yang tertindas untuk mencipta sistem sosial baru dan lebih adil. Dalam perspektif kritis, pendidikan harus mampu menciptakan ruang untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas dan kritis untuk transformasi sosial. Dengan kata lain tugas utama pendidikan adalah ”memanusiakan” kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak adil.

Menurut Rahardjo (2010) zaman ini berkembang demikian cepat, bahkan jauh lebih cepat dari perkiraan para ahli. Prediksi para ahli perancang masa depan sering meleset, karena dimensi permasalahan yang dihadapi manusia saat ini demikian kompeks. Satu peristiwa sering bertautan dengan peristiwa lainnya, sehingga tidak ada peristiwa yang berupa a single event. Untuk menyelesaikannya diperlukan berbagai pendekatan. Sebut saja, misalnya, peristiwa keagamaan hampir selalu terkait dengan masalah politik, sosial, budaya, dan bahkan ekonomi.

Dalam keadaan demikian, menjadi orang pintar saja belum cukup. Agar mampu menghadapi persaingan ke depan, dibutuhkan orang yang mampu berpikir kritis. Pengertian berpikir kritis ialah berpikir dengan konsep yang matang dan mempertanyakan segala sesuatu yang dianggap tidak tepat dengan cara yang baik.

Menurut para ahli, melatih berpikir kritis dapat dilakukan dengan cara mempertanyakan apa yang dilihat dan didengar. Setelah itu, dilanjutkan dengan bertanya mengapa dan bagaimana tentang hal tersebut. Intinya, jangan langsung menerima mentah-mentah informasi yang masuk. Dari mana pun datangnya, informasi yang diperoleh harus dicerna dengan baik dan cermat sebelum akhirnya disimpulkan. Karena itu, berlatih berpikir kritis artinya juga berperilaku hati-hati dan tidak grusa-grusu dalam menyikapi permasalahan.

Pernahkah kita merasa tidak nyaman jika melihat sesuatu tidak berjalan dengan baik di sekolah, keluarga, atau lingkungan tempat kerja? Jika itu terjadi, ini kesempatan kita melatih berpikir kritis. Caranya, dengan menanyakan bagaimana dan mengapa hal itu terjadi dengan diikuti suatu tindakan yang kreatif. Ada pandangan lain untuk meningkatkan sikap kritis.

Menurut penelitian para ahli neurolinguistik, cabang ilmu yang mengkaji bahasa dan fungsi saraf, otak manusia bisa dilatih fungsi-fungsinya, termasuk untuk melahirkan sikap kritis.

Menurut mereka, otak manusia dibagi dua, yakni otak kiri yang memproduksi bahasa verbal, imitatif dan repetitif, dan otak kanan yang memperoduksi pikiran yang bersifat imajinatif, komprehensif, dan kontemplatif.

Muncul dugaan bahwa orang-orang agung para pembuat sejarah besar adalah orang yang memiliki otak kanan yang aktif.

Berita terbaru

Berita Menarik Lainnya

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Masuk

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Masuk

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.