24 C
Jakarta
Kamis, Mei 6, 2021

Menjaga Nalar Kritis ditengah Pandemi, LPM Dinamika Adakan Diskusi Online

Salatiga, Jurnalpost – LPM DinamikA adakan diskusi secara online. Sabtu, (10/10/2020). Diskusi yang diinisiasi oleh Koor. Reporter dan Devisi Pendidikan ini dikuti seluruh reporter LPM DinamikA beserta tamu undangan.

Dengan mengangkat tema “Menjaga Nalar Kritis di tengah Pandemi”, dalam sambutanya, Ervanio Septian, Pimpinan Umum LPM DinamikA menjelaskan bahwa pandemi ini cukup mengurangi praktek jurnalistik. “Kru Reporter LPM DinamikA yang seharusnya belajar secara tatap muka mulai berkurang karena pandemi. Karena itu kegiatan seperti liputan, investigasi dan diskusi sedikit demi sedikit terbengkalai yang menyebabkan turunya daya nalar kritis,” jelasnya.

Dalam diskusi online part pertama ini, LPM DinamikA menghadirkan narasumber A. Faruuq, ketua BEM Universitas Islam Malang dan Manik Marganamahendra, ketua BEM Universitas Indonesia 2019.

Namun dalam konfirmasi terakhir, Manik Marganamahendra tidak bisa menghadiri diskusi online ini dikarenakan masih memberikan penolongan kepada demonstrans penolakan omnibus law yang tertahan di Jakarta.

Henrik, panitia diskusi berharap agar diskusi ini dapat mengembalikan semangat kritis profresif para mahasiswa, khususnya untuk reporter LPM DinamikA. “Acara ini sangat bagus, karena budaya kritik mahasiswa itu semakin lama semakin berkurang, apalagi ditengah kemajuan teknologi dan informasi. Dengan menjaga nalar kritis ini tentu kita bisa mengembalikan budaya kritis mahasiswa, bukan hanya mengendalikan budaya kritisnya tetapi lebih kepada meningkatkan.”

Tambahnya, “kedepannya mahasiswa terkhusus untuk anggota LPM DinamikA agar lebih kritis lagi terhadap keadaan sekitar dari hal kecil hingga besar.”

Diskusi pertama dari tiga kali diskusi yang direncanakan ini cukup berjalan dengan baik. Terlihat banyaknya peserta yang antusias mengajukan pertanyaan.

Dwi Puspita, peserta diskusi yang juga kru reporter LPM Dinamika, Mengatakan bahwa diskusi ini sangat bagus. Ditambah temanya yang cukup untuk mengkritis RUU Omnibuslaw yang masih hangat. “Bagus mbak, soale diskusi ini cukup dapat menyinggung isu yang lagi anget seperti pengesahan RUU Omnibus Law. Selain itu pemantik juga tidak banyak basa basi dalam menyampaikan materinya,” ungkap Dwi.

Bagi Dwi, nalar kritis mahasiswa sangat dibutuhkan dalam melihat situasi yang terjadi. “Tadi tuh di diskusi bahas tentang bagaimana sih menjaga nalar kritis mahasiswa. Dalam hal ini nalar kritis mahasiswa sangat diperlukan apalagi dengan keadaan yang terjadi saat ini yang berkaitan dengan UU cipta kerja,” tutup Dwi.

Berita terbaru

Berita Menarik Lainnya

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Masuk

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Masuk

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.