32.9 C
Jakarta
Sabtu, Maret 6, 2021

Masa Depan Pendidikan Setelah Pandemi: Tingkatkan Penguasaan Digital

Oleh: Liska Triana Arifah Mahasiswi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang

JURNALPOST – Hingga kini pandemi masih mewabah, kurva kasus COVID-19 makin menajam tak kunjung melandai. Semua sektor terkena dampaknya, tidak ada satupun yang terlewat. Akibatnya tatanan kehidupan terpaksa beralih, mau tidak mau, suka tidak suka. Segala aktivitas mengharuskan masyarakat untuk bersentuhan dengan informasi digital. Terlihat dari meningkatnya aktivitas pembelian secara online hingga membuka peluang besar bagi para UMKM di tanah air. Tak hanya dari segi ekonomi, aktivitas belajar dan mengajar pun terpaksa dilakukan via digital sebagai pemenuhan hak dan kewajiban.

Pandemi telah berhasil menggeser kebiasaan kontak fisik selama proses belajar dan mengajar. Sebagai bentuk pemenuhan hak atas pendidikan di situasi luar biasa ini, kebijakan pembelajaran jarak jauh pun diterapkan. Sistem pembelajaran ini mengharuskan adanya alat pendukung berupa teknologi digital dan perangkat konektivitas untuk berkomunikasi. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelanggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada periode 2019-kuartal II/2020 mencatat bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 196,7 juta jiwa. Angka tersebut mengalami kenaikan dibanding tahun 2018 yakni sebesar 8,9 persen atau sekitar 23,5 juta jiwa. Data tersebut membuktikan bahwa selama pandemi masyarakat banyak menggantungkan aktivitasnya pada penggunaan internet.

Pada tahun 2019 lalu, Muhadjir Effendy selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan program digitalisasi sebagai upaya persiapan SDM untuk menyambut revolusi industri 4.0. Karakteristik dari pembelajaran digitalisasi ialah siswa menggunakan multimedia dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang ada di sekolah. Khusus wilayah perkotaan dengan fasilitas yang memadai, hal tersebut tentu saja sudah dijalankan. Lalu bagaimana dengan wilayah tertinggal untuk menerapkan program tersebut?

Adanya pandemi ini membuat semua aktivitas pendidikan dilaksanakan secara daring dengan memanfaatkan teknologi baik itu ponsel pintar, tab, laptop, dan komputer. Pandemi mempercepat pelaksanaan digitalisasi pendidikan, bukan lagi sebagai upaya untuk menyiapkan diri menyambut era 4.0. Walau kita tidak dapat menutup mata bahwa ketidaksiapan penyelenggaran belajar jarak jauh juga cukup besar. Bagi wilayah tertinggal tentunya hal ini sangat berat untuk dijalankan yakni dari terbatasnya fasilitas penunjang pembelajaran. Pada survei yang sama data pengguna internet terbesar masih terpusat di wilayah Pulau Jawa yakni sebanyak 88 juta jiwa dan posisi terbanyak selanjutnya diraih oleh Sumatera Utara yakni sebanyak 11,7 juta jiwa. Adapun Banten mencapai 9,98 juta jiwa dan pengguna internet di Jakarta mencapai 8,9 juta jiwa. Artinya jaringan internet belum tersebar secara merata di seluruh Indonesia. Hingga banyak anak yang berjuang mengakses jaringan internet dari naik gunung hingga berburu sinyal di hutan demi memenuhi hak mereka atas pendidikan.

Tidak bisa dipungkiri apabila kesenjangan ekonomi dapat menyebabkan keterbatasan dalam memperoleh pembelajaran secara digital. Survei yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan proses pembelajaran lebih banyak diikuti melalui ponsel pintar dengan 95,4 persen responden dibandingkan laptop dan komputer. Sementara itu, UNICEF menyelenggarakan survei pada 18-29 Mei 2020 dan 5-8 Juni lalu. Hasil menunjukkan sebanyak 66 persen dari 60 juta siswa dari berbagai jenjang sekolah di Indonesia mengaku tidak senang melakukan pembelajaran di rumah selama pandemi. Keluhan tugas menumpuk juga membuat siswa keberatan karena terbatasnya media penunjang pembelajaran dan jaringan internet.

Sebelum COVID-19 pendidikan online sudah mulai berkembang didukung dengan adanya platform pendidikan yang sudah akrab di telinga para siswa seperti Ruangguru, Quipper, dan Google Classroom. Penggunaan platform pendidikan diketahui mengalami lonjakan siginfikan sejak pandemi. Oleh karena itu, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI melakukan kerjasama berbagai platform untuk mendukung pembelajaran daring selama belajar di rumah. Seperti dilansir melalui laman resmi Kemendikbud RI ada 12 jenis platform yang dapat diakses oleh siswa. Platform tersebut adalah Rumah Belajar, Meja Kita, Icando, IndonesiaX, Google For Education, Kelas Pintar, Microsoft Office 365, Quipper, Ruangguru, Sekolahmu, Zenius, dan Cisco Webex. Pengadaan platform tersebut sebagai bentuk dukungan pemerintah untuk memudahkan siswa mengakses pendidikan yang berkualitas di tengah pandemi.

Bukan saatnya untuk kembali mengeluhkan situasi tak terduga dan penuh ketidakpastian ini, tidak ada salahnya menerima segala bentuk perubahan yang telah terjadi. Selama perubahan itu membawa dampak positif, mengapa tidak? Akan lebih baik jika perubahan positif itu tetap dilakukan setelah pandemi berakhir dan tentunya perlu diinovasikan kembali sesuai zamannya. Besar harapan dengan adanya vaksinasi yang telah dibagikan akan menghentikan pandemi ini.

Kini saatnya semua pihak berkolaborasi untuk memajukan dan memperkuat pendidikan setelah pandemi untuk kebaikan bersama. Titik awal pemberatasan kemiskinan yang menyebabkan ketimpangan ekonomi dan sosial terletak pada pendidikan. Pandemi seakan menjadi momentum untuk kemajuan pendidikan kita sebagai perwujudan atas digitalisasi pendidikan. Hal positif yang dapat kita petik dari wabah COVID-19 di bidang pendidikan ialah membuka peluang bagi guru dan siswa agar terbiasa melaksanakan proses belajar dan mengajar melalui teknologi digital. Hal yang demikian hendaknya menjadi pemicu untuk mengubah perspektif betapa efektifnya belajar melalui digital. Akan efektif jika mereka mengakses teknologi informasi secara tepat, maka mereka dapat menikmati keunggulan digitalisasi pendidikan untuk meningkatkan efisiensi pembelajaran. Sekali lagi penggunaan teknologi secara tepat ya.

Tugas kita semua adalah meningkatkan solidaritas untuk memajukan pendidikan sebagai awal untuk mengakhiri ketimpangan ekonomi dan sosial. COVID-19 telah memperlihatkan kepada kita secara nyata bahwa ketimpangan dalam memperoleh pendidikan benar adanya. Meskipun digitalisasi sejak pandemi ini mewabah menjadi sebuah tren, akan tetapi hal itu bukan satu-satunya pilihan yang terbaik untuk masa depan. Dalam sosiologi, masyarakat dipandang sebagai sebuah organisme hidup. Sangat diperlukan adanya proses interaksi langsung dengan manusia satu dan lainnya untuk berkomunikasi. Maka pembelajaran tatap muka tetap diperlukan untuk membentuk karakter para siswa. Karakter yang baik merupakan investasi masa depan agar kelak tumbuh generasi penerus bangsa yang berlaku adil dan memberi manfaat untuk orang lain.

Semoga dunia segera disembuhkan, tidak ada gunanya jika kita terus menyalahkan keadaan. Setiap peristiwa di dalamnya ada hal baik yang dapat kita petik. Semoga pandemi menjadi sebuah cerita, digitalisasi pendidikan menjadi sebuah komponen integral dari sistem lembaga pendidikan Indonesia.

Berita terbaru

Berita Menarik Lainnya

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini