Kembangkan Obat Dalam Negeri, Kurangi Ketergantungan Obat Luar Negeri

JURNALPOST – Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Tidak kurang dari 30.000 spesies tumbuhan ada di hutan tropis Indonesia. Dari jumlah tersebut sekitar 9.600 spesies yang diketahui memiliki khasiat obat. Kalau bicara pengobatan menggunakan tanaman obat, tentu saja pikiran kita pasti tertuju ke obat tradisional atau jamu-jamuan. Tidak salah, karena memang bahan dasar obat tradisional atau jamu tersebut berasal dari tanaman obat (biofarmaka).

Tanaman biofarmaka merupakan tanaman yang masuk dalam sub sektor hortikultura. Tanaman biofarmaka adalah tanaman yang bermanfaat untuk obat-obatan, kosmetik, dan kesehatan lainnya. Bagian yang dapat digunakan dari tanaman adalah bagian daun, batang, buah, umbi (rimpang), atau pun akar. Tanaman biofarmaka umumnya adalah tanaman yang biasa dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional dan bumbu-bumbu masakan.

Tanaman biofarmaka atau tanaman obat di bedakan menjadi dua kelompok. Pertama tanaman rimpang yang terdiri dari jahe, lengkuas, kencur, kunyit, lempuyang, temulawak, temuireng, temukunci, dan dringo. Kedua tanaman non rimpang yang terdiri dari kapulaga, mengkudu, mahkota dewa, kejibeling, sambiloto, dan lidah buaya.

Produksi Tanaman Obat

Menurut data BPS, tiga jenis tanaman biofarmaka kelompok rimpang yang mempunyai produksi terbesar pada tahun 2018 adalah jahe dengan produksi sebesar 207.411,86 ton, diikuti oleh kunyit dengan produksi sebesar 203.457,53 ton, dan laos (lengkuas) dengan produksi sebesar 70.014,97 ton. Sedangkan jenis tanaman biofarmaka kelompok non rimpang yang mempunyai produksi terbesar adalah kapulaga dengan produksi sebesar 81.724,53 ton dan jenis tanaman kelompok non rimpang lainnya dengan jumlah produksi yang hampir sama.

Berdasarkan sebaran wilayahnya, produksi tanaman biofarmaka kelompok rimpang pada tahun 2018 tersebar di Pulau Jawa. Provinsi sentra tanaman biofarmaka kelompok rimpang adalah Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Produksi tertinggi jahe, kencur, dan kunyit ada di Jawa Timur sedangkan produksi laos (lengkuas) tertinggi ada di Jawa Tengah.

Berdasarkan publikasi BPS, tanaman biofarmaka yang paling banyak diekspor pada tahun 2018 adalah jahe, kunyit, dan kapulaga. Volume ekspor jahe sebesar 3.203,12 ton senilai 3,65 juta dollar, volume ekspor kunyit sebesar 9.049,26 ton senilai 12,26 juta dollar, dan volume ekspor kapulaga sebesar 7.847,52 ton senilai 16,48 juta dollar. Negara tujuan ekspor jahe terbesar adalah Malaysia diikuti oleh India dengan volume ekspor masing-masing sebesar 1.018,52 ton dan 503,50 ton

Kemudian, jumlah perusahaan hortikultura tahun 2019 sebanyak 117 perusahaan, turun sebesar 15,22 persen (21 perusahaan) dibandingkan tahun 2018. Pada tahun 2018 persentase perusahaan tanaman biofarmaka sebesar 2,90 persen. Sedangkan pada tahun 2019 persentase perusahaan tanaman biofarmaka yaitu 2,56 persen. Pada tahun 2018 persentasi usaha hortikultura lainnya yang mengusahakan tanaman obat sebesar 1,70 persen sedangkan tahun 2019 yang mengusahakan tanaman obat sebesar 0,95 persen.

Dari data tersebut, perusahaan dan usaha lainnya di bidang tanaman obat (biofarmaka) mengalami penurunan. Padahal jika dilihat dari segi kebermanfaatan dan kebutuhan, tanaman biofarmaka ini memiliki kepentingan yang tidak kalah penting dibanding tanaman holtikultura lainnya.

Potensi dan Tantangan

Melihat kondisi dengan data tersebut, sudah seharusnya Indonesia melakukan perubahan yang lebih giat bahwa tanaman obat bisa dikembangkan semaksimal mungkin. Terlebih dengan adanya pandemi ini membuat perubahan pola hidup menjadi kembali ke alam (back to nature). Kemudian mahalnya obat-obatan modern menyebabkan tanaman biofarmaka tersebut sudah seharusnya mulai dilirik dan dijadikan obat tradisonal.

Dunia Kedokteran Indonesia sendiri secara perlahan mulai membuka diri menerima herbal sabagai pilihan untuk pengobatan, bukan sekadar sebagai pengobatan alternatif saja, ini terbukti dengan berdirinya beberapa organisasi seperti Badan Kajian Kedokteran Tradisional dan Komplementer Ikatan Dokter Indonesia, Persatuan Dokter Herbal Medik Indonesia [PDHMI], Persatuan Dokter Pengembangan Kesehatan Timur [PDPKT] dan beberapa organisasi sejenis lainnya. Ini semua menggambarkan dunia kedokteran sudah mulai memanfaatkan tanaman biofarmaka. Walau masih belum terbuka lebar, para dokter sudah mulai melihat potensi besar yang ternyata bisa dikembangkan dalam pengobatan berbasis obat herbal. Obat ini tidak hanya untuk menangani penyakit yang ringan saja tetapi juga untuk mengatasi penyakit yang berat.

Ketergantungan masyarakat terhadap obat konvensional kedokteran diharapkan bisa secara pasti diganti dengan masuknya obat herbal. Saat ini ternyata 95% bahan baku obat konvensional masih diimpor, berapa banyak devisa yang bisa dihemat bila peralihan ini berjalan mulus. Meskipun suda ada sebagian masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan obat tradisional untuk mengatasi masalah kesehatan pada tubuh. Dengan mengonsumsi minuman atau ramuan yang berbahan tanaman biofarmaka seperti jamu tradisional secara rutin dipercaya dapat memperkuat sistem imun tubuh, sehingga tubuh tidak mudah lelah atau sakit.

Dari segi produksi diharapkan pemerintah lebih memprioritaskan teori dan pelatihan mengenai budidaya produk biofarmaka, sebab apabila produsen dan petani telah diberi bekal teori dan teknis penanaman, maka kualitas dan kuantitas produk biofarmaka di Indonesia jauh lebih baik dan mampu bersaing di pasar internasional. Inovasi hasil olahan produk biofarmaka juga perlu dikembangkan. Hal tersebut bisa memanfaatkan potensi sumber daya manusia lainnya, seperti peneliti atau yang ahli di bidang obat-obatan. Bisa diolah menjadi produk setengah jadi atau siap saji agar tidak menimbulkan kesan jenuh khususnya rasa produk biofarmaka yang sebagian besar jarang diminati masyarakat.

Masalah lain dalam pengembangan produk biofarmaka adalah produktivitas menurun dan nilai ekspor yang masih cenderung tidak menentu. Maka perbaikan produktivitas perlu dilakukan, khususnya penyediaan produk biofarmaka domestik dan mancanegara. Dilihat dari berbagai aspek seperti pola masyarakat dunia yang berlaih ke obat herbal, produksi dan lahan biofarmaka serta keberhasilan dalam ekspor ke berbagai tujuan negara dunia menunjukan bahwa Indonesia mampu membawa produk biofarmaka bersaing dengan negara eksportir lain.

Namun, di sisi lain pengembangan obat dari sumber daya alam memiliki sejumlah kelemahan. Salah satunya terjadi eksploitasi terhadap sumber daya alam akibat komersialisasi produk. Kebutuhan akan bahan baku tanaman obat yang tinggi sementara ketersedian bahan baku semakin terbatas. Selain itu, pengembangan obat dari tanaman juga membutuhkan biaya tinggi dalam proses eksplorasinya.
Kendati begitu, upaya pemanfaatan tanaman obat di Indonesia tetap perlu dilakukan. Dengan langkah tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Namun, dalam pemanfaatannya diharapkan tetap memperhatikan kelestarian untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan. Harapannya dengan pengembangan obat baru dalam negeri ini dapat mengurangi ketergantungan obat dari luar negeri. (Denita Dwi Andiany)

Berita terbaru

PKS dirikan Posko Tanggap Banjir dan Dapur Umum untuk Korban Banjir Kroya, Cilacap

Jurnalpost - Hujan deras sejak Ahad 25 Oktober 2020 yang mengguyur wilayah timur Kabupaten Cilacap menimbulkan banjir di sebagian besar kecamatan Kroya (Desa Mujur...
- Advertisement -

Manfaat Daun Sambiloto untuk Kesehatan, Salah Satunya Tingkatkan Imun Tubuh

JURNALPOST - Manfaat daun sambiloto untuk kesehatan mungkin masih terdengar asing bagi beberapa orang. Namun, ternyata daun sambiloto ini telah digunakan dalam berbagai ramuan tradisional sejak dulu. Tanaman...

Tingkatkan Kesehatan tubuh, KKN UIN Walisongo adakan Bekam gratis kepada masyarakat

SEMARANG, JURNALPOST - Dalam rangka program kerja KKN RDR 75 di RT 08 Rw 11 Desa Wonosari, Kecamatan Ngaliyan Kota semarang, mahasiswa KKN mengadakan...

Sasindo unair tekankan pentingnya budaya literasi pada anak zaman sekarang

JURNALPOST - Ketika sang mentari belum menampakkan wujudnya, segenap tim perwakilan Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia (Sasindo) Fakultas Ilmu Budaya UNAIR memberangkatkan diri menuju...

Berita Terkait

PKS dirikan Posko Tanggap Banjir dan Dapur Umum untuk Korban Banjir Kroya, Cilacap

Jurnalpost - Hujan deras sejak Ahad 25 Oktober 2020 yang mengguyur wilayah timur Kabupaten Cilacap menimbulkan banjir di sebagian besar kecamatan Kroya (Desa Mujur...

Manfaat Daun Sambiloto untuk Kesehatan, Salah Satunya Tingkatkan Imun Tubuh

JURNALPOST - Manfaat daun sambiloto untuk kesehatan mungkin masih terdengar asing bagi beberapa orang. Namun, ternyata daun sambiloto ini telah digunakan dalam berbagai ramuan tradisional sejak dulu. Tanaman...

Tingkatkan Kesehatan tubuh, KKN UIN Walisongo adakan Bekam gratis kepada masyarakat

SEMARANG, JURNALPOST - Dalam rangka program kerja KKN RDR 75 di RT 08 Rw 11 Desa Wonosari, Kecamatan Ngaliyan Kota semarang, mahasiswa KKN mengadakan...

Sasindo unair tekankan pentingnya budaya literasi pada anak zaman sekarang

JURNALPOST - Ketika sang mentari belum menampakkan wujudnya, segenap tim perwakilan Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia (Sasindo) Fakultas Ilmu Budaya UNAIR memberangkatkan diri menuju...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini