26.9 C
Jakarta
Kamis, April 22, 2021

Kedatangan Presiden Jokowi di Nian Sikka Jangan Salah Menilai

Dengan segala rasa hormat dan bangga akan kerinduan masyarakat Kabupaten Sikka lebih besar dari pada ketakutan akan covid. Bentuk kecintaan yang tulus untuk presiden Jokowi datang ke NTT untuk meresmikan bendungan Napun Gete-Maumere.

Oleh : Odan Loni.

JURNALPOST – Sebagai orang NTT merasa terharu dan bangga kehadiran presiden Jokowi di Kabupaten Sikka. Saya tak habis pikir mengapa sebagian para aktor politik mencari kesalahan untuk menjatuhkan bapak Jokowi yang katanya melanggar protokol kesehatan.

Kerumunan yang terjadi bukan pasca merebaknya kunjungan kerja Jokowi dengan agenda peresmian bendungan Napun Gete pada selasa 23 Februari 2021. Saat itu Tidak ada yang mobili masa, semua itu reaksi warga Sikka, saking rindu dan cintanya kepada Bapak Presiden.

Harus bisa membedakan antara kerumunan yang dikarenakan undangan dan kerumunan yang situasional. Bahkan, presiden Jokowi tidak pernah mengundang masyarakat supaya datang dipinggir jalan, atau menyuruh mereka datang menyambutnya.

JOKOWI Bersama Masyarakat Sikka

Napun Gete. Bukan hadir karena ada agenda politik,. Bukan?

Jika melihat dalam video kehadiran presiden, reaksi spontan masyarakat walaupun selalu diingatkan namun masyarakat tidak peduli karena hanya ingin melihat langsung wajah presiden dan ingin menyapanya. Itu karena cintanya menyambut kedatangan Jokowi. Tanpa inters dan agenda politik. Tanpa rekayasa, mobilisasi nasi bungkus dan recehan uang transort.

Antusiasias masyarakat Kab. Sikka sungguh terharu dan bahkan ada yang menangis. Semua karena cinta dan sayang kepada pemimpin Indonesia. Kehadiran Presiden membuat masyarakat bangga karena selain meresmikan bendungan Napun Gete namun di sisi lain presiden Jokowi berada bersama masyarakat Kab. Sikka untuk menyapa rasa sayang dengan masyarakat Sikka sebagai tanda kekeluargaan dan keanekaragaman yang berbeda.

Sosok pemimpin yang menampilkan dirinya secara terbuka sepanjang jalan sembari mengingatkan warga agar menggunakan masker dan menjaga jarak. Itu semua karena presiden sayang dengan masyarakat Sikka.

Ditambah lagi Rakyat NTT sekarang ini butuh pemimpin yang jago politik anggaran , produktif dan konkret sehingga menghasilakan percepatan pembangunan infrastruktur, penanganan pandemi Covid-19, bantuan peningkatan kualitas pertanian dan peternakan serta perikanan. Cukup sudah membuli hanya mencari sensasi untuk menyalahkan bapa Presiden Jokowi.

Jokowi tidak salah yang salah masyarakat yang hadir saat itu sudah sejak dua kali menunggu kehadiran RI. Namun pada saat bapak presiden hadir di Kab. Sikka masyarakat sudah tidak bisa lagi berdiam di rumah. Ini karena masyarakat tahu bahwa presiden no 1 “Orang Hebat” sudah hadir menampilkan secara nyata dengan penampilan yang sederhana layaknya seperti masyarakat biasa.

Oh iya saya bahkan sempat berdiskusi dengan beberapa teman yang mendukung presiden Jokowi, agar mencari celah pembenaran sehingga kerumulan itu dapat dibenarkan.

Namun kami sampai pada kesimpulan yang sama. Kesimpulan yang memang harus jujur disampaikan kepada publik bahwa Jokowi memang melanggar protokol kesehatan. Galau rasanya jika pemimpin melanggar protokol kesehatan.

Memang ironi jika melihat kembali ke belakang di mana Jokowi menegaskan secara berulang-ulang bahkan dengan menggunakan kode tangannya untuk memakai masker dan membubarkan kerumunan masaa. Faktanya, dalam video yang beredar tersebut, aparat keamanan malah tidak bisa berbuat apa-apa selain mejaga presiden agar masyarakat tidak bersalim tangan secara langsung dengan bapak presiden.

Apalah daya kejadian itu sudahlah berlalu dan menjadi perbincangan hangat di media sosial bahkan di berbagai media yang ada di Indonesia. Andaikan saja situasi kunjungan Jokowi di Kab. Sikka pada saat dunia baik-baik saja. Saya tidak bisa habis berpikir mungkin msyarakat Kab. Sikka untuk tinggal di NTT. Bisa jadi mengapa tidak?

Sayangnya situasi kedatngan Jokowi pada saat Pandemi Covid-19. Bahkan terjadi pada saat angka infeksi Covid-19 di NTT mengalami kenaikan pada beberapa minggu terahkir hingga mencapai angka 70, 58%. Angka ini, masih dimungkinkan mengingat jumlah pasien terpapar covid-19 meningkat hingga 8.586 kasus. Kasus Ini belum terhitung jumlah pada saat selesai kunjungan presiden Jokowi.

Masyarakat dan Ormas Itu Baik
Organisasi masyarakat seperti PMKRI, GMNI, HMI dan beberapa ormas lainnya di Kab. Sikka sangat mengharapkan kehadiran Jokowi.  Bahkan sebelum presiden Jokowi kunjung ke Kab. Sikka memberikan dukungan penuh  untuk meresmikan bendungan Napun Gete. Ketua presidium PMKRI Cab. Maumere mengatakan kedatangan Jokowi merupakan sebuah kerinduan yang besar dari segenap masyarakat Kab. Sikka. Tapi toh? Mengapa selesai persemian banyak para aktor politisi di Indonesia mengkritik seakan-akan presiden Jokowi dipersalahkan.

Saya pun sejenak merenung sambil minum seruput kopi ahit Manggarai Timur? Bukannya kedatangannya Jokowi merupakan kerinduan masyarakat Kab. Sikka? Ataukah kedatangan presiden hanya membuat kekacuan dan kekecewaan  di Kab. Sikka.? Pada hemat saya Jokowi Datang bukan untuk mengumpulkan massa tetapi Jokowi datang hanya untuk meresmikan bendungan Napun Gete.

Setibanya bapak presiden Jokowi di Nian Sikka ratusan warga Sikka datang dan berjejeran sepanjang jalan untuk menyaksikan dan melihat secara langsung. Meskipun hanya melambaikan tangan. Itu semua merupakan bentuk kepedulian dan rasa sayangnya.

Masyarakat Kab. Sikka tahu dan sadar untuk mengikuti protokol kesehatan. saya berpikir masyarakat tidak bodoh. Masyarakat tahu ! mereka datang bukan untuk menyebarkan virus Corona tetapi mereka datang untuk melihat Bapak Jokowi datang pertama kali di Nian Sikka. Tentunya sebagai warga masyarakat Sikka pasti menyambut dengan antusias dan sorak sorai bergema sepanjang jalan.

Kalau pun banyak para politisi di istana mengkritik Jokowi yang katanya kerumulan. Ini bukan salah Jokowi. Tetapi ini masyarakat sendiri yang berkerumulan hanya ingin melihat Jokowi. Masyarakat datang juga selalu menggunakan masker.

Cobalah jika berpikir secara dengan akal sehat. Jangan mencari sensasi hal yang sebenarnya tidak diperdebatkan.

Memang ironi jika melihat kembali ke belakang di mana Jokowi menegaskan secara berulang-ulang untuk membubarkan kerumanan massa. Faktanya, dalam video yang beredar tersebut, aparat keamanan malah tidak bisa berbuat apa-apa. Padahal seharusnya mereka dapat mengantisipasi kerumunan tersebut jauh hari sebelum Jokowi tiba. Aparat juga bisa membubarkan massa yang datang sebelum membentuk sebuah kerumunan besar.

Apalah daya, kejadian itu sudah berlalu dan menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Andai saja peristiwa ini terjadi di masa normal, tentu momen itu menjadi simbol kecintaan rakyat kepada Jokowi. Bahkan simbol kedekatan relasi antara negara dan rakyat.

Sayangnya semarak kerumunan tersebut terjadi pada masa Covid-19. Bahkan terjadi pada saat angka infeksi covid-19 di NTT mengalami kenaikan pada beberapa minggu terakhir hingga mencapai 8.586 kasus.

Jokowi Sama dengan Rizieq?
Lalu bagaimana dengan penilaian publik bahwa kasus Jokowi di Sikka sama dengan kasus yang menimpa Rizieq Shihab?

Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, membenarkan kerumunan masyarakat itu terjadi di Maumere pada Selasa kemarin. Bey menjelaskan, masyarakat saat itu memang sudah menunggu rombongan Presiden Jokowi di pinggir jalan.

“Benar, itu video di Maumere. Setibanya di Maumere, Presiden dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju Bendungan Napun Gete. Saat dalam perjalanan, masyarakat sudah menunggu rangkaian di pinggir jalan, saat rangkaian melambat masyarakat maju ke tengah jalan sehingga membuat iring-iringan berhenti,” kata Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin, Selasa (23/2).

Bey sebagaimana dilansir dari republika.co.id mengatakan, masyarakat Maumere spontan menyambut kedatangan Jokowi. Jokowi pun, kata Bey, menyapa masyarakat dari atap mobil.

“Dan kebetulan mobil yang digunakan Presiden atapnya dapat dibuka, sehingga Presiden dapat menyapa masyarakat sekaligus mengingatkan penggunaan masker,” ujar Bey.

Sayangnya penjelasan ini terkesan dibuat secara buru-buru, padahal saya tak sabar menunggu penjelasan istana terkait perbedaan antara kerumunan massa Jokowi dan Rizieq sebagaimana yang ramai diperbincangkan netizen.

Satu-satu satunya alasan penampik adalah perstiwa itu terjadi secara spontanitas. Jika dibandingkan dengan kasus Rizieq dalam beberapa spot kerumunan beberapa waktu lalu, alasan yang terungkap juga sama yakni spontanitas warga.

Andai saja kita mencoba ngeles bahwa Jokowi dan Rizieq secara apple to apple berbeda di mana yang satunya presiden dan yang satunya lagi pemuka agama, lantas apakah covid-19 pernah pilih-pilih kasus?

Apakah virus korona hanya menjangkit pengikut Rizieq, sementara pengikut Jokowi yang bebas berkerumun tanpa menjaga jarak akan aman-aman saja?

Apakah Didi Nong Say yang membela Jokowi dalam kasus kerumunan itu akan bebas dari Covid meski tanpa memperhatikan protokol kesehatan? Sementara Benny K Harman yang mengkritik Jokowi dalam kasus tersebut akan terjangkit?

“BKH dengan gamblang mencoba menyejajarkan penyambutan spontan masyarakat NTT tersebut dengan peristiwa penyambutan Risieq Shihab. Itu sungguh naif dan cari panggung saja. Dengan pernyataan ini, entah disadari atau tidak, BKH telah membangun rasa permusuhan dan kebencian rakyat yang diwakilinya dengan dirinya sendiri,” demikian tulis Didi.

Membaca tulisan ini, jujur saja, saya ngakak sampai perut lemes. Kok lain gatal, lain yang digaruk ya? Padahal kalau mau jujur, kritikan Benny terhadap Jokowi adalah bentuk kecintaannya terhadap rakyat Sikka agar tidak terpapar korona.

“Luar biasa rakyat Maumere Flores sambut Presiden Jokowi. Mereka tumpah ruah ke jalan, rela terpapar Covid hanya utk melihat langsung wajah Presiden. Teringat saya dgn masyarakat sambut Habib Riziek di Bandara Soetta saat pulang dari LN. Seolah tdk percaya bahaya Covid. Monitor!” demikian tulis Benny dalam akun Twitternya.

Jika dicermat, bahasa Benny dalam tulisan bergaya sarkastik. Alih-alih memuji dengan menggunakan frasa “luar biasa” namun sebenarnya berisi sinisme terhadap Jokowi. Sebagai politisi oposisi tentu tujuannya baik yakni agar jangan terjadi diskriminasi perlakuan di tengah masyarakat. Makanya Benny menambahkan ingatannya tentang momen penyambutan Rizieq Shihab di Bandara Soeta yang dinilai mirip dengan kasus Jokowi di Sikka.

Kalau Didi Nong Say cukup peka saja dengan permasalahan negara-bangsa ini, tentu ia sadar bahwa akar dari semua riakan publik akibat matinya rasa keadilan. Pancasila hanya hidup dalam kata-kata namun mati dalam tindakan bernegara. Pancasila hanya dijadikan sebagai pemanis bibir di masa kampanye bahkan Pancasila itu sendiri dieksploitasi untuk mengkotak-kotakan masyarakat. Tentu Nong masih ingat bagaimana memanasnya ruang publik kita akibat saling sikut narasi Pancasila vs radikalis dalam Pilpres 2019.

Keadilan itu juga mati ketika jurang menganga antara kaya dan miskin makin melebar di negeri ini. Megawati Institute mencatat, kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia tiga kali lebih cepat dari pertumbuhan nasional selama tahun 2006 hingga 2016.

Penghasilan orang terkaya di Indonesia mencapai US$ 36 juta per bulan atau sekitar Rp 400 miliar. Angka tersebut menjadi timpang, ketika penghasilan buruh tani di Indonesia hanya Rp 1,5 juta per bulan. Padahal, jumlah buruh tani di Indonesia sebanyak 37 juta orang. Itu artinya, penghasilan satu orang konglomerat di Indonesia, hampir sama dengan penghasilan 37 juta buruh tani se-Indonesia.

Mari kita saling bergandeng tangan untuk mendukung dan medoakan bapak presiden Jokowi dalam membangun Indonesia yang lebih sejeahtera. Bukan saling menjatuhkan hanya karena berbeda oposisi. Indonesia dipersatukan karena berpegang teguh pada Pancasila dan Toleransi sebagai nilai keberagaman.

Penulis : Mahasiswa Awam STFK Ledalero Semester : VIII Anggota PMKRI Cab.Maumere Ketua Ikatan Mahasiswa Manggarai-Maumere (IMAMM)

Berita terbaru

Berita Menarik Lainnya

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Masuk

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Masuk

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.