27.6 C
Jakarta
Kamis, April 22, 2021

Kebijakan Sekolah Gratis di Masa Pandemi

Oleh : Durotut Takiyah/Mahasiswi UIN Raden fatah Palembang

JURNALPOST – Pembangunan pendidikan merupakan salah satu prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional. Pemerintah telah berupaya untuk memperluas akses dan pemerataan pendidikan dan terus meningkatkan partisipasi pendidikan sekaligus menurunkan kesenjangan taraf pendidikan antar kelompok masyarakat. Pemerintah melakukan penyediaan bantuan operasional sekolah (BOS) untuk seluruh siswa pada jenjang pendidikan dasar, yang mencakup SD, MI, SDLB, SMP, MTs, SMPLB, dan Pesantren Salafiyah, serta satuan pendidikan keagamaan lainnya yang menyelenggarakan pendidikan dasar sembilan tahun.

Penyediaan BOS ini ditujukan untuk membebaskan biaya pendidikan bagi siswa tidak mampu dan meringanka beban bagi siswa yang lain, agar mereka memperoleh layanan pendidikan yang lebih bermutu sampai tamat dalam rangka penuntasan Wajib Belajar Sembilan Tahun. Untuk jenjang pendidikan menengah disediakan bantuan operasional manajemen mutu yang ditujukan untuk membantu SMA/SMK/MA dalam menyediakan kebutuhan operasionalnya. Pemerintah juga telah meluncurkan program Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM) dalam rangka memperluas akses ke sekolah menengah.

Kebijakan Sekolah Gratis di Sumatera Selatan ditetapkan sejak tahun 2009 dengan sasaran program yaitu sekolah dari SD-SMA/SMK/Sederajat kecuali kelompok belajar paket. Kemudian di tahun 2014, pemerintah provinsi Sumatera Selatan meluncurkan program Kuliah Gratis dengan alokasi 2000 peserta setiap tahunnya dan di tahun 2018 telah mencapai 8000 peserta program. Program Sekolah Gratis menunjukkan indikasi adanya pengaruh positif terhadap tingkat pendidikan di Sumatera Selatan meski masih menyisakan pekerjaan yang belum tuntas.

Hal ini ditunjukkan dari Angka Partisipasi Sekolah mulai dari SD/Sederajat sampai SMA/SMK sederajat mulai beranjak naik dari tahun 2006 sampai 2017. Begitu juga rata-rata lama sekolah yang semula 7,60 tahun pada 2006 menjadi 8,41 tahun pada 2017. Namun sayangnya, angka putus sekolah masih cukup tinggi. Jumlah penduduk usia 16-18 tahun yang putus sekolah berkisar 30 persen dan pada usia 19-24 tahun bahkan masih di atas 80 persen. Peningkatan angka partisipasi sekolah SMA ke atas yang masih diiringi dengan tingginya angka putus sekolah pada usia 16-24 tahun tentu menimbulkan pertanyaan apa yang menjadi alasan penduduk usia 16-24 untuk tidak melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.

Program Sekolah Gratis (PSG) yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sampai saat ini masih terus berjalan. Untuk program ini, Pemerintah Provinsi Sumsel melalui Dinas Pendidikan (Disdik) telah menganggarkan dana PSG untuk SMA dan SMK Negeri sebesar Rp 207 Milliar.

Gubernur Herman Deru terus mendorong agar pendidikan dapat terus berjalan meski dimasa pandemi. Sebab pendidikan merupakan salah satu sektor yang juga terdampak wabah covid-19 seperti saat ini.

Hal itu untuk diketahui masyarakat Sumatera Selatan, sehingga masalah pendidikan gratis di daerah ini tetap akan dilanjutkan. Namun dana pemerintah itu tidak semata-mata berwujud bantuan langsung kepada penerima manfaat, namun berbentuk belanja langsung untuk SMA/SMK Negeri.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Sumsel, Widodo menjelaskan, PSG akan tetap dijalankan dan anggaran telah diajukan dalam bentuk belanja langsung untuk SMA dan SMK Negeri se-Sumatera Selatan. (tribunnews.com)

“Dana PSG untuk SMA dan SMK negeri sebesar Rp 207 M dan dalam bentuk hibah untuk SMA dan SMK swasta sebesar Rp 183 M,” ujar Widodo

Impikasi kebijakan yang dapat dilakukan baik untuk Pemerintah Daerah di Provinsi Sumatera Selatan maupun Pemerintah pusat yaitu memperluas bantuan pendidikan bagi penduduk kelompok pendapatan menengah kebawah. Bantuan pendidikan disini bukan hanya untuk pendidikan tersier namun juga pendidikan sekunder. Karena angka putus sekolah untuk pendidikan sekunder masih tinggi.

Selain itu memperluas pembangunan infrastruktur untuk Internet terutama di daerah pedesaan. Akses internet gratis dan berkecepatan tinggi diperlukan untuk akses informasi yang lebih cepat bagi penduduk pedesaan. Karena mengenai perkembangan zaman yang sangat mengedepankan teknologi modern maka sangat dibutuhkan akses internet yang cepat hingga bisa digunakan untuk kepentingan pembelajaran dengan nyaman dan mudah.

Berita terbaru

Berita Menarik Lainnya

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Masuk

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Masuk

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.