JurnalPost.com – Kegiatan Jambore dan Raimuna Ranting yang semula dijadwalkan akan berlangsung di Cimalaka terpaksa dibatalkan, menimbulkan kekecewaan di kalangan pramuka dan aktivis setempat. Pembatalan ini memicu berbagai tanggapan, terutama dari dua aktivis Cimalaka yang vokal, Yoga dan Ridwan, yang turut menyuarakan pandangan mereka mengenai keputusan tersebut.
Yoga Arifin mantan anggota DKC Sumedang, seorang aktivis muda yang dikenal aktif dalam kegiatan kepemudaan di Cimalaka, mengungkapkan kekecewaannya atas pembatalan Jambore dan Raimuna Ranting ini. “Jambore dan Raimuna Ranting adalah momentum penting untuk mengembangkan karakter dan keterampilan kepemimpinan di kalangan generasi muda. Pembatalan ini tidak hanya mengecewakan, tetapi juga merampas kesempatan mereka untuk belajar dan berinteraksi dengan teman-teman dari Gudep lain,” ujarnya.
Yoga juga menyoroti bagaimana kegiatan ini seharusnya menjadi ajang untuk memperkuat solidaritas di antara para pramuka. “Dengan dibatalkannya acara ini, kita kehilangan peluang untuk mempererat persaudaraan dan saling berbagi pengalaman di antara peserta dari berbagai latar belakang,” tambahnya.
Sementara itu, Ridwan , seorang aktivis senior yang sudah lama berkiprah dalam gerakan pramuka di Cimalaka, juga menyatakan keprihatinannya. “Keputusan ini menunjukkan kurangnya komitmen dari pihak-pihak terkait dalam mendukung kegiatan pramuka. Jambore dan Raimuna bukan sekadar kegiatan biasa, ini adalah bentuk pembelajaran di luar kelas yang sangat penting,” kata Ridwan.
Ridwan menambahkan bahwa kegiatan Jambore dan Raimuna Ranting ini sebenarnya telah direncanakan dengan baik oleh Kwartir Ranting (Kwarran) Cimalaka dan seharusnya didukung oleh semua pihak. “Pembatalan ini mencerminkan kurangnya komunikasi dan koordinasi antara para pemangku kepentingan. Seharusnya, kita bisa mencari solusi bersama daripada membatalkan acara yang sudah dinantikan oleh banyak anggota,” tegasnya.
Pembatalan Jambore dan Raimuna Ranting ini memunculkan berbagai pertanyaan tentang bagaimana dukungan terhadap program-program kepramukaan di masa mendatang. Para aktivis seperti Yoga dan Ridwan berharap, situasi ini bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk lebih menghargai dan mendukung kegiatan yang berdampak positif bagi generasi muda.
Meskipun acara ini tidak jadi dilaksanakan, harapannya semangat pramuka di kalangan siswa Cimalaka tidak akan surut dan justru menjadi dorongan untuk lebih giat berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan kepramukaan lainnya.