
Wonogiri, JurnalPost.com (24/07/2024) ─ Kini, pelaku UMKM mulai bermunculan, tak terkecuali di Desa Panekan, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri. Berbagai macam produk ditawarkan, mulai dari kue lapis, bawang goreng, catering, madu, hingga yang paling banyak ditemukan, yakni rempeyek. Namun, banyak pelaku UMKM yang belum mampu menyelenggarakan pembukuan dengan baik. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti penjualan yang fluktuatif, anggapan bahwa usaha tersebut merupakan usaha sampingan sehingga tidak terlalu mengejar keuntungan, kurangnya pengetahuan terkait pembukuan dan pelaporan keuangan dan sebagian besar pelaku UMKM yang lebih menyukai hal yang praktis, sehingga tidak menggunakan pembukuan karena terkesan rumit dan memakan biaya.
Tidak jauh berbeda, hal tersebut juga ditemui di Desa Panekan. Banyak pelaku UMKM yang belum mengerti terkait pembukuan dan apa pentingnya melakukan pembukuan. Para pelaku UMKM mematok harga berdasarkan perkiraan, dan lebih nyaman dengan hal tersebut. Meskipun begitu, tetap terdapat pelaku UMKM yang memiliki keingintahuan tinggi dan ingin belajar menyelenggarakan pembukuan.
Adalah peyek “RAFLI”, yang merupakan UMKM rumahan yang terletak di salah satu dusun di Desa Panekan. Usaha ini walaupun dianggap sebagai usaha sampingan namun pelaku memiliki harapan untuk mengembangkan usahanya. Ketidaktahuan terkait pembukuan akuntansi menjadi hal yang cukup disayangkan. Selama ini, pelaku usaha hanya menggunakan perkiraan dalam proses produksi hingga penjualan rempeyek.
Melihat adanya semangat juang dari pelaku UMKM, tercetuslah program pengenalan pembukuan sederhana dan perhitungan BEP bagi pelaku UMKM rempeyek “RAFLI”. Pengenalan BEP menjadi landasan awal agar pelaku UMKM dapat menentukan harga dengan tepat serta menjadi alat penyusunan strategi pemangkasan biaya.
Program dimulai dengan pengenalan dan edukasi terkait pembukuan, pentingnya pembukuan dan pentingnya analisis BEP atau Break Even Point. Setelah pelaku usaha memahami dengan baik pentingnya pembukuan dan BEP, selanjutnya pelaku usaha diajak untuk mempraktikkan ilmu baru tersebut. Dalam prosesnya, pelaku usaha terlibat diskusi mendalam terkait biaya bahan baku yang dikeluarkan. Karena kaitannya dengan sembako, sehingga biaya bahan baku cenderung fluktuatif. Ditentukanlah biaya rata-rata dalam sekali produksi, sedangkan untuk biaya overhead, dihitung menggunakan persentase.

Harga rempeyek di daerah sekitar Panekan adalah Rp3.000,00. Hal ini mencerminkan strategi cost leadership, yang merupakan strategi untuk memangkas biaya sehingga dapat mematok harga yang murah. Sama dengan yang lain, pelaku UMKM rempeyek “RAFLI” juga mematok harga Rp3.000,00 untuk harga sebungkus rempeyek. Setelah melakukan perhitungan, ditemukanlah BEP sebesar Rp2.115,00 per bungkus, yang artinya, laba yang diambil sangat kecil.
Setelah mengetahui BEP per bungkus. selanjutnya pelaku usaha UMKM mempraktikkan pembukuan. Pembukuan dilakukan menggunakan buku kas, untuk memudahkan pencatatan, mengingat usaha rempeyek ini berada dalam skala kecil dan agar dapat digunakan oleh orang awam. Kami mulai membuat pembukuan sederhana untuk hari itu sekaligus membuat proyeksi untuk beberapa hari ke depan. Hal ini menjadi sesuatu yang baru bagi pelaku UMKM, yang memberikan tanggapan positif pada sesi praktik. Harapannya, pelaku UMKM ke depannya semakin memahami pentingnya menghitung Break Even Point dan menyelenggarakan pembukuan agar dapat mengelola keuangan dengan lebih baik dan dapat mengembangkan usahanya.
Penulis: Bertha Tasya Julieta Rahardiyanti
Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Diponegoro
Dosen Pembimbing Lapangan: Muhammad Ramdan, S.H., M.H., Gani Nur Pramudyo, S.IP.,
M.Hum., Dr. Dian Agus Widiarso, S.T., M.T
Lokasi KKN: Desa Panekan, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri
#KKNUndipTim2
#p2kknUndip
#LPPMUndip
#Undip