Kembali
Ikuti Google News
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Dulunya di Persimpangan, Kini Menemukan Harapan & Kehangatan di Rumah Perlindungan

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 5 Juni 2025

JurnalPost.com – Saya Zico Ananda Pasaribu dengan NIM 220902118 Selaku Mahasiswa FISIP USU Jurusan Kesejahteraan Sosial, Melakukan PKL di RPS Jl. Bunga Turi II Medan, dengan Supervisor Sekolah Dr. Agus Suriadi S.Sos. M.Si. , Dosen Pembimbing yaitu Fajar Utama Ritonga S.Sos. M.Kesos dan Supervisor Lembaga Trisno Mulyono Hutagalung, SH. Berlangsung Dari Bulan Februari-Juni 2025

Dalam rentang waktu tersebut, saya tidak hanya mempelajari sistem kerja lembaga, tetapi juga berkesempatan mendampingi salah satu klien dalam proses perubahan perilakunya. Artikel ini akan memuat refleksi perjalanan saya selama PKL serta pengalaman mendampingi “M”, seorang mantan pengamen.

Saya memilih RPS (Rumah Perlindungan Sosial) Menjadi Tempat PKL saya karena tempat ini sangat relevan dengan bidang studi saya, yaitu ilmu sosial dan kesejahteraan sosial. Di RPS, saya bisa memahami langsung bagaimana proses rehabilitasi sosial dilakukan terhadap individu yang rentan secara sosial, seperti Gelandangan, pengamen jalanan, dan kelompok PPKS Lainnya. Dan Saya juga tertarik mempelajari bagaimana sebuah lembaga seperti RPS menjalankan program rehabilitasi dan mempersiapkan individu agar dapat kembali hidup mandiri dan terintegrasi dengan masyarakat. Ini memberi saya gambaran nyata tentang peran praktis dari teori-teori yang saya pelajari di kampus.

Pada bulan pertama, saya lebih banyak melakukan observasi dan pengenalan terhadap lingkungan RPS, struktur organisasi, dan peraturan internal. Saya juga mulai membangun hubungan baik dengan para staf serta membantu dalam kegiatan harian seperti mencatat data klien, dan mengikuti kegiatan umum. Pada tahap ini, saya mulai belajar bagaimana pendekatan awal dilakukan terhadap para PPKS dengan latar belakang berbeda.

Memasuki bulan kedua, saya mulai dilibatkan dalam kegiatan yang lebih mendalam, seperti bimbingan sosial kelompok kepada para PPKS dan ikut serta dalam razia penjangkauan bersama Unit Reaksi Cepat (URC). Melalui kegiatan ini, saya belajar mengenai identifikasi permasalahan sosial secara langsung dan pentingnya pendekatan non-diskriminatif.

1. Engagement & Intake (Pertengahan Maret)
Saya mulai melakukan pendekatan terhadap M, seorang pria berusia 26 tahun asal Medan yang sebelumnya bekerja sebagai pengamen dan terjaring razia sosial pada Januari 2025. Pada awalnya, M merupakan pribadi yang tertutup dan cenderung menghindari komunikasi. Namun, melalui pendekatan yang hangat, empatik, dan berkelanjutan, saya berhasil membangun hubungan kerja yang cukup terbuka.

2. Assessment
Saya mengumpulkan informasi melalui wawancara dan observasi untuk memahami kondisi M. Ia telah kehilangan kedua orangtuanya, tinggal bersama pamannya, dan memiliki tiga adik perempuan, salah satunya sudah menikah. Ia memilih mengamen demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan pendapatan berkisar 70-100 Ribu Rupiah setiap Harinya. Dari hasil asesmen, diketahui bahwa ia memiliki keinginan untuk berubah, namun kurang percaya diri dan belum memiliki arah hidup yang jelas.

3. Planning
Bersama dengan pembimbing lapangan dan staf RPS, saya menyusun rencana intervensi berupa peningkatan rasa percaya diri, penanaman nilai tanggung jawab, serta mengajak M untuk terlibat aktif dalam kegiatan sosial di lingkungan RPS. Intervensi dirancang agar berlangsung bertahap dan menyesuaikan dengan kesiapan psikososial M.

4. Intervention (April – Awal Mei)
Saya melakukan intervensi melalui pendekatan individual, konseling ringan, dan percakapan reflektif. Saya memberikan kepercayaan kepada M, membantunya melihat potensi dalam dirinya, serta membahas bagaimana hidup di jalanan tidak selalu membawa hasil yang layak. M mulai terlibat aktif sebagai pesuruh sukarela bagi staf dan penghuni RPS lainnya. Ia menjalankan peran tersebut dengan penuh tanggung jawab dan tanpa paksaan.

Intervensi saya didukung dengan pendekatan Transtheoretical Model (TTM) dari Prochaska dan DiClemente, yang menekankan bahwa perubahan perilaku terjadi dalam beberapa tahap: pre-contemplation, contemplation, preparation, action, dan maintenance. Saya melihat M bergerak dari tahap kontemplasi menuju aksi dan kemudian mempertahankan perubahan positif tersebut.

5. Evaluation (Mei)
Pada tahap evaluasi, saya melihat perkembangan signifikan dalam diri M. Ia menjadi lebih terbuka terhadap orang lain, lebih mudah akrab dengan staf dan penghuni, serta memiliki semangat untuk kembali ke keluarganya dan memperbaiki hidup. Mampu menjalani kehidupan di RPS dengan kedisiplinan dan rasa tanggung jawab adalah indikator bahwa intervensi yang dilakukan cukup berhasil.

6. Termination
Menjelang akhir Mei, pihak RPS mulai memproses pemulangan M ke keluarganya. Saya melakukan sesi penutup dengan M, menyampaikan apresiasi atas perubahan yang ia capai, serta mendorongnya untuk menjaga semangat baru ini setelah kembali ke lingkungan asal. Termination dilakukan secara hangat dan penuh harapan.

Melalui tahapan praktik pekerjaan sosial ini, saya lebih menyadari betapa pentingnya lingkungan yang mendukung dan pendekatan yang tepat dalam proses rehabilitasi sosial. RPS bukan hanya tempat penampungan, melainkan ruang untuk tumbuh dan berubah. Saya berharap dengan pengalaman ini bisa menjadi pijakan awal bagi saya untuk terus belajar dan berkontribusi dalam dunia pekerjaan sosial yang lebih luas.

Ikuti kabar terbaru JurnalPost di Google News

Dapatkan update berita JurnalPost langsung dari etalase Google Berita.

📰 Ikuti JurnalPost di Google News
https://news.google.com/publications/CAAqKQgKIiNDQklTRkFnTWFoQUtEbXAxY201aGJIQnZjM1F1WTI5dEtBQVAB?ceid=ID
Sumber artikel: https://jurnalpost.com/edu/dulunya-di-persimpangan-kini-menemukan-harapan-kehangatan-di-rumah-perlindungan/2138/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 07 November 2026 10:43.