JurnalPost.com – Pengembangan sosial dan emosional anak usia sekolah dasar merupakan pondasi penting dalam membentuk karakter dan ketahanan psikologis mereka. Namun, bagaimana jika proses tersebut terhambat oleh lingkungan keluarga yang tidak harmonis?
Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dengan pola asuh yang kurang suportif sering kali menunjukkan gejala psikososial seperti rendah diri, menarik diri dari pergaulan, hingga berbicara sendiri sebagai bentuk pelampiasan emosi. Inilah realita yang ditemui mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial Universitas Sumatera Utara saat melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Rumah Pintar Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI), Kelurahan Amplas, Kota Medan.
Rumah Pintar YAFSI merupakan ruang edukatif nonformal yang menyasar anak-anak dari keluarga kurang mampu, tidak hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang aman yang mendukung perkembangan sosial dan emosional anak. Dalam kegiatan praktik ini, saya Dea Adinda (NIM 220902008)—berkesempatan mendampingi langsung seorang anak perempuan yang mengalami hambatan dalam kepercayaan diri akibat dinamika keluarga yang kaku dan minim dukungan emosional.
Pendampingan dilakukan menggunakan metode casework mikro dari Skidmore, Thackeray, dan Farley (1994) dalam (Fajar, Mia & Agus, 2022), di bawah bimbingan supervisor sekolah, Dra. Tuti Atika, M.SP. Selama lebih dari tiga bulan, saya melaksanakan proses pendampingan intensif, dimulai dari kontak awal hingga tahap akhir (terminasi). Berikut adalah tahapan pendampingan yang saya lakukan:
- Engagement (Tahap Pendekatan)
Langkah awal yang dilakukan oleh mahasiswa pendamping adalah membangun hubungan profesional yang hangat dengan anak. Melalui interaksi santai dan bermain bersama di Rumah Pintar, kepercayaan mulai tumbuh. Anak mulai terbuka dan bersedia berbagi perasaannya. Dalam pendekatan ini, penting untuk menunjukkan empati dan penerimaan tanpa syarat agar anak merasa aman dan tidak dihakimi.
- Assessment (Tahap Pengkajian)
Setelah membangun relasi, pendamping melakukan asesmen menyeluruh terhadap kondisi anak dengan pendekatan bio-psiko-sosial-spiritual. Ditemukan bahwa anak mengalami perasaan rendah diri, memiliki pengalaman dimarahi dan direndahkan oleh saudara kandungnya, serta sering berbicara sendiri sebagai bentuk pelampiasan emosional.
Meski demikian, terdapat potensi dalam diri anak ia menunjukkan minat pada aktivitas seni seperti merakit gelang dan menyanyi. Dukungan emosional yang kuat juga muncul dari adik kandung dan teman sebaya di Rumah Pintar. Pemetaan sistem sumber ini dilakukan menggunakan tools ecomap.
- Planning (Tahap Perencanaan)
Berdasarkan hasil asesmen, dibuatlah rencana intervensi yang berfokus pada peningkatan kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, serta ekspresi diri anak. Kegiatan yang dirancang meliputi:
- Pembuatan gelang tangan (kegiatan seni kreatif)
- Sesi refleksi menulis jurnal harian
- Permainan kelompok kecil
- Pelibatan anak sebagai fasilitator kegiatan
Tujuannya adalah untuk memberikan pengalaman sukses dan positif yang bisa memperkuat rasa percaya dirinya.
- Intervention (Tahap Intervensi)
Intervensi dilakukan secara bertahap dan menyenangkan. Anak diberi peran untuk memimpin kelompok kecil dalam kegiatan membuat gelang, sekaligus membimbing teman lainnya. Respon yang diterima dari teman dan fasilitator sangat positif, membuat anak mulai merasa dihargai.
Hal yang lebih mengesankan, ia mulai mengajarkan keterampilan tersebut kepada kakaknya di rumah. Ini menjadi titik balik membaiknya komunikasi dalam keluarga, dan menjadi bentuk keberhasilan intervensi sosial yang berdampak nyata.

- Evaluation (Tahap Evaluasi dan Monitoring)
Proses evaluasi dilakukan melalui refleksi mingguan dan pemantauan perilaku anak. Perubahan signifikan terlihat dari peningkatan partisipasi, komunikasi, dan kemampuan anak dalam menyampaikan perasaan melalui jurnal yang ia tulis. Ia juga mulai menunjukkan tanggung jawab dan kepemimpinan dalam kelompok.
Model evaluasi yang digunakan adalah pendekatan CIPP (Context, Input, Process, Product) untuk memastikan setiap aspek dari intervensi berjalan sesuai tujuan.
- Termination (Tahap Terminasi)
Setelah menunjukkan perkembangan positif dan stabil, hubungan profesional dengan anak secara perlahan ditutup. Proses terminasi dilakukan dengan sesi refleksi akhir, pemberian penghargaan sederhana, dan dukungan moral dari teman-teman serta fasilitator. Anak tampak siap untuk melanjutkan prosesnya secara mandiri.
Dalam pelaksanaan Praktikum Kerja Lapangan (PKL) Kesejahteraan Sosial ini, penulis memperoleh banyak dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala bentuk bimbingan dan bantuan yang telah diberikan selama proses kegiatan berlangsung.
Penulis mengucapkan terima kasih atas dukungan berbagai pihak selama pelaksanaan Praktikum Kerja Lapangan (PKL) Kesejahteraan Sosial. Terima kasih kepada Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos selaku dosen pengampu mata kuliah PKL, dan Ibu Dra. Tuti Atika, M.SP selaku Supervisor Sekolah atas bimbingan dan arahannya. Penulis juga berterima kasih kepada pihak Yayasan Fajar Sejahtera Indonesia (YAFSI) sebagai lembaga tempat praktik, serta anak-anak peserta Rumah Pintar Amplas yang telah bersedia menjadi klien dan sumber informasi. Penulis juga berterima kasih kepada orang tua atas dukungan moril dan materiil, serta rekan-rekan PKL di Rupin YAFSI atas kerja sama dan kebersamaannya selama kegiatan berlangsung.
Oleh : Dea Adinda, NIM 220902008, Prodi Kesejahteraan Sosial, FISIP USU