MENYUPLAI KEPADA MASYARAKAT
Selain terbarukan, energi listrik dari biogas dikenal lebih ramah terhadap lingkungan. Kerugian yang ditimbulkan jauh lebih kecil dibandingkan dari energi fosil seperti minyak bumi.
Bukan rahasia lagi, energi fosil seperti minyak bumi dan batubara memicu serangkaian kondisi yang merugikan. Energi ini melepaskan karbon dioksida ke udara. Inilah yang memicu pemanasan global, pencemaran udara, hingga gangguan kesehatan. Belum lagi penggunaan lahan yang lumayan besar dan potensi pencemaran air yang ditimbulkannya.
Tak heran, Asian Agri berusaha menekan penggunaan energi fosil di perusahaannya. Pelan-pelan mereka mengembangkan PLTBG sebagai sumber energi anyar. Maklum saja, energi listrik dari biogas diperkirakan bisa mengurangi emisi
Asian Agri memanfaatkannya untuk memutar operasional pabrik. Namun, keberadaan PLTBG juga membuka kesempatan kepada mereka untuk memberi manfaat kepada masyarakat dan negara.
Perlu diketahui, setiap PLTBG milik Asian Agri mampu menghasilkan energi listrik dengan kapasitas mencapai 2,2 megawatt. Dari jumlah itu, anak perusahaan RGE tersebut hanya membutuhkan 700 kilowatt untuk menjalankan operasionalnya. Akibatnya ada sisa energi listrik hingga 1,5 megawatt per PLTBG.
Oleh Asian Agri, kelebihan suplai listrik itu disalurkan kepada masyarakat di sekitarnya. Dengan asumsi bahwa satu rumah membutuhkan 900 watt, maka satu PLTBG bisa mendukung energi untuk sekitar 1.600 rumah.
Jumlah itu bertambah besar karena Asian Agri saat ini mengoperasikan 7 buah PLTBG. Jika ditotal, sekarang mereka telah mampu mendukung kebutuhan listrik untuk 11.600 rumah.
Ke depan, masyarakat yang mendapat dukungan suplai listrik dari Asian Agri akan bertambah. Pada 2020 nanti bakal ada setidaknya 32 rumah yang memperoleh suplai listrik dari mereka.
“Kepedulian dan komitmen nyata dari perusahaan kelapa sawit di Indonesia terhadap keseimbangan lingkungan hidup serta Sustainable Development Goals (SDG) akan berkontribusi secara signifikan bagi upaya Pemerintah Indonesia mengurangi pemanasan global dan perubahan iklim di dunia”, kata Head of Sustainability and Stakeholder Relations Asian Agri, Bernard A. Riedo.
Langkah Asian Agri mendapat apresiasi dari pemerintah. Kebetulan saat ini pemerintah tengah mengejar pertumbuhan energi terbarukan seperti biogas. Hal itu sejalan dengan misi untuk mendapat sumber energi listrik sebesar 35 ribu megawatt yang dicanangkan. Konsistensi Asian Agri dalam membangun PLTBG dinilai sejalan dnegan dua misi tersebut.
"Penciptaan energi baru terbarukan diharap dapat mencapai 23% pada 2025," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan di Sindonews.com. "Kami mengundang partisipasi sektor swasta agar mulai berinisiatif dan mengambil peran. Penciptaan energi hijau yang dilakukan Asian Agri ini sangat baik," tambahnya.
Bagi Asian Agri, selain melaksanakan perlindungan alam, hal ini juga menjadi cara lain untuk mewujudkan prinsip kerja lain di RGE. Oleh pendirinya, Sukanto Tanoto, segenap pihak di Royal Golden Eagle diharapkan mampu memberi manfaat kepada pihak lain. Mereka diharuskan untuk berguna bagi masyarakat dan negara.
Kewajiban itu dikenal sebagai filosofi bisnis 5C. Hal itu pun menjadi arahan operasional bagi semua pihak di RGE. Membangun PLTBG ternyata memungkinkan Asian Agri memberi manfaat pada masyarakat dan negara. Inilah yang diharapkan oleh grup yang berdiri dengan nama Raja Garuda Mas tersebut ke semua anak perusahaannya. (ADV)
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda