27.4 C
Jakarta
Sabtu, Februari 27, 2021

2021 Momentum Muhasabah Bangsa Indonesia

Oleh: Miftahul Huda (Mahasiswa UIN Riau)/Di tulis di Pekanbaru 16 januari 2021

JURNALPOST – 2021 adalah tahun dimana bangsa Indonesia mengalami berbagai macam musibah secara beruntun. Mulai dari jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182 pada 9 Januari 2021, dilanjutkan dengan wafatnya ulama panutan bangsa Indonesia yang telah mengajarkan bangsa Indonesia arti perdamaian dan kasih sayang yaitu Ali Saleh Mohammed Ali Jaber atau yang lebih dikenal dengan Syekh Ali Jaber pada 14 Januari 2021, wafatnya seorang ulama nusantara Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf pada 15 Januari 2021, Longsor di Sumedang pada 15 Januari 2021, Gempa di Sulawesi Selatan yang memakan korban jiwa dan kerusakan fasilitas serta pemukiman warga pada 18 Januari 202 dan banjir di Kalimantan Selatan yang mengakibatkan ribuan orang mengungsi disebabkan banjir yang menerjang pemukiman mereka.

Dari berbagai musibah yang menimpa bangsa kita pada tahun ini, sudah selayaknya dan sepantasnya bagi kita semua  menjadikan tahun 2021 sebagai momentum bagi kita semua selaku anak bangsa untuk bermuhasabah (Introspeksi diri) mengapa Tuhan yang maha esa menimpakan kejadian-kejadian ini pada kita semua. Banyak kita saksiakan di media-media nasional baik  media elektronik ataupun cetak berbagai pakar mengemukakan sebab-sebab kejadian yang menimpa kita akhir-akhir ini. Tapi ada yang kita lewatkan bahwa dari sekian banyak sebab terjadinya bencana ataupun musibah di negeri kita akhir-akhir ini adalah penggerak sebab tersebut. Siapa lagi kalau bukan Allah SWT selaku tuhan seluruh manusia. Karena peran Tuhanlah segala sebab terjadinya musibah ataupun bencana tersebut terjadi. Dan kita semua harus yakin bahwa  Musibah yang datang kepada bangsa kita, adalah untuk menguji taraf keimanannya kepada Allah. Semakin mantap bangsa kita menyikapi musibah yang datang dengan bersikap sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, maka semakin mantaplah keimanannya. Apa pun musibah yang datang kepada manusia, semuanya atas izin Allah. Dengan keyakinan demikian, harus disikapi dengan bijaksana dan bersikap sesuai dengan ketentuan-Nya.

Allah berfirman dalam QS: At-Taghabun ayat 11:

“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Maksud ayat tersebut menurut Imam  Ibnu Katsir adalah Allah menyatakan tiada sesuatu pun yang terjadi di alam ini melainkan dengan kehendak dan kekuasaan Allah swt, sedang siapa yang beriman kepada Allah pasti ia akan rela pada putusan Allah baik qada maupun taqdir-Nya, dengan iman itulah hati akan mendapatkan ketenangan, karena ia telah yakin bahwa yang dikehendaki tidak akan terjadi.

Bila ditelaah lebih lanjut, bahwa musibah yang diturunkan Allah swt, sebagaimana informasi Alquran, setidaknya ada empat tujuan Allah SWT menurunkan musibah bagi hambanya, yaitu:

Pertama, jadi sebagai ujian bagi orang-orang mukmin, Allah SWT berfirman dalam QS: Al-Baqarah ayat 155-156:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”

Yang terpenting dari pelajaran di atas adalah kembalinya kita mengingat Allah ketika menghadapi segala keraguan dan kegoncangan, serta berusaha mengosongkan hati dari segala hal kecuali ditujukan semata kepada Allah. Kemudian, agar terbuka hati kita bahwa tidak ada kekuatan kecuali kekuatan Allah, tidak daya kecuali daya Allah, dan tidak keinginan kecuali keinginan mengabdi kepada Allah.

Kedua, sebagai peringatan atau teguran bagi umat manusia pada umumnya, Allah SWT menyatakan dalam QS: As-Syu’aro 208-209:

“Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeripun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan; untuk menjadi peringatan. Dan Kami sekali-kali tidak berlaku zalim.”

Ayat-ayat di atas memberikan informasi kepada manusia tentang dua hal. Yang pertama, Allah tidak menimpakan bencana yang menghancurkan suatu negeri, kecuali Dia sudah memberikan peringatan kepada penduduknya. Diajak berbuat baik, dilarang berbuat kerusakan, malah melakukan sewenang-wenang. Jika hal itu yang terjadi, maka Allah swt akan mengirimkan bencana yang membinasakan. Yang kedua, bencana itu berfungsi sebagai peringatan, agar manusia segera bertaubat. Jika tidak segera bertaubat, bencana yang akan datang akan lebih besar lagi,

Ketiga, sebagai azab atau siksa bagi manusia yang banyak berbuat dosa dan maksiat, tentang hal ini dapat dilihat pada QS: al-Maidah ayat 49:

“…maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.”

Sebagai perbuatan yang tercela, perbuatan dosa akan menimbulkan akibatakibat buruk dan pengaruh negatif. Akibat buruk itu tidak saja akan menimpa diri orang yang melakukan dosa tersebut, tetapi dapat juga berdampak negatif terhadap orang-orang lain dan bahkan terhadap lingkungan alam pada umumnya. Dalam Alquran, pertanggungjawaban atas setiap perbuatan, baik secara kelompok maupun secara individu, amat ditekankan. Setiap manusia harus mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya selam ia hidup di dunia. Ini adalah salah satu prinsip pokok ajaran Islam, Alquran menegaskan bahwa manusia, kelak di hari kemudian, tidak akan mendapatkan apa pun kecuali yang telah diupayakannya sendiri.

Keempat, sebagai kasih sayang (rahmat) bagi orang Mukmin, ini dapat dipahami dari QS:At-Taghabun ayat 11:

“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”

Ayat tersebut memberikan pemahaman bahwa semua musibah adalah atas izin Allah. Bagi mereka yang beriman kemudian ditimpa musibah, serta ia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan taqdir dari Allah, maka musibah tersebut merupakan kasih sayang Allah sehingga Ia akan memberikan hidayah kepada hamba-Nya yang beriman tersebut.

Dari keemapat tujuan musibah atau bencana yang Allah SWT berikan kepada manusia hendaknya kita sikapi dengan bijaksana dan cermat, apakah musibah yang Allah SWT turunkan untuk bangsa ini sebagai ujian, teguran, rahmat atau bahkan adzab dikarenakan kemaksiatan merajalela di bumi pertiwi.  Dan tahun inilah momentum bagi bangsa Indonesia untuk sama-sama bermuhasabah (intronspeksi) kepada Tuhan atas apa yang telah diperbuat selama ini. Karena Tuhan yang maha esa pasti memiliki tujuan menurunkan musibah/bencana kepada bangsa kita saat ini, Wallahu ‘alam bisshowab.

Berita terbaru

Berita Menarik Lainnya

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini